PLN Modifikasi PLTU Suralaya 6 dan 7, Kini Bisa Gunakan Batu Bara Kalori Rendah

ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/gp/foc.
Suasana di PLTU Suralaya, Kota Cilegon, Banten.
Penulis: Mela Syaharani
Editor: Agustiyanti
3/7/2026, 11.54 WIB

PT PLN (persero) melakukan retrofit atau modifikasi penggunakan kualitas batu bara di pembangkit listrik tenaga uap Suralaya Unit 6 dan 7. 

PLTU ini sebelumnya hanya bisa memproses pasokan batu bara dengan kalori tinggi antara 4.600-4.800 GAR. Namun saat ini, pembangkit tersebut bisa untuk mengolah batu bara kalori 4.100-4.300 GAR.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, retrofit ini dilakukan perusahaan karena kondisi pasokan batu bara yang berubah.

“Kami mengakui produksi batu bara kalori 4.500 GAR ke atas semakin menipis sementara kalori rendah makin besar. Oleh sebab itu kami melakukan penyesuaian (adjustment) terhadap pembangkit kami,” kata Darmawan dalam rapat dengar pendapat  bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (3/7).

Dia menyebut PLN saat ini sedang mengkaji rencana penerapan retrofit di seluruh pembangkit listrik milik PLN, baik yang berada di bawah naungan PLN Indonesia Power ataupun PLN Nusantara Power. Darmawan menyampaikan hal ini juga masuk dalam rencana jangka panjang perusahaan selama lima tahun mendatang.

“Kami melakukan adjustment pada pembangkit-pembangkit kami dengan tujuan jangan sampai terulang kembali,” ujarnya.

Tambahan pasokan 16,8 juta ton batu bara kalori medium

Darmawan sebelumnya menyebut telah mendapatkan alokasi tambahan pasokan batu bara kalori 4.500 GAR atau medium untuk PLTU dengan total 16,8 juta ton hingga Desember 2026. Dia juga mengklaim sudah tidak ada lagi pemadaman bergilir sejak 21 Juni 2026. 

Dia mengatakan, tambahan pasokan ini dialokasikan khusus dari Kementerian ESDM untuk PLN. Hal ini dilakukan mengatasi masalah pemadaman bergilir yang terjadi beberapa waktu lalu. Tambahan pasokan tersebut berada di luar dari jumlah alokasi domestic market obligation (DMO) yang sudah ditetapkan sebelumnya. 

“(Jumlahnya) 1,8 juta ton untuk suplai Juli, dan 3 juta ton per bulan dari Agustus hingga Desember,” kata Darmawan dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (2/7).

Dia menyebut sistem kelistrikan memiliki tambahan daya mampu pasok sebesar 5 gigawatt (GW) di atas 35,9 GW dengan jumlah pasokan ini. 

“Ini tentu saja membuat sistem di Jawa yang tadinya memang kami mengakui ada pemadaman bergilir, ini sistemnya langsung meningkat menjadi jauh lebih andal,” ujarnya. 

PLN mengakui sempat terjadi penurunan produksi batu bara nasional, khususnya yang memiliki jenis kalori tinggi. Saat ini produksi batu bara Indonesia didominasi oleh batu bara kalori rendah. 

“Dengan adanya (tambahan pasokan) kendala penyediaan energi listrik yakni pemadaman bergilir yang sempat terjadi bisa diselesaikan dengan baik,” ucapnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani