Trump Batalkan Serangan ke Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok

QatarEnergy
Salah satu fasilitas kilang LNG milik QatarEnergy.
Penulis: Mela Syaharani
3/8/2026, 08.35 WIB

Harga minyak acuan dunia anjlok setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran. Turunnya harga juga didukung oleh rencana lanjutan Trump untuk melakukan perundingan damai dengan Iran pekan ini.

Harga minyak Brent anjlok 4,7% menjadi US$ 83,77 per barel pada pukul 07.49 waktu Singapura. Pada awal perdagangan hari ini, harga Brent merosot hingga 7,3%. Penurunan ini terjadi usai minyak tersebut mengalami lonjakan harga US$ 32 atau 25% sepanjang Juli, yang merupakan kenaikan bulanan terbesar sejak Maret.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate turun 4,8% menjadi US$ 80,64 per barel. Harga gas alam Eropa juga terjun hingga 6,3% pada awal perdagangan Asia.

Kenaikan harga minyak Brent sepanjang Juli terjadi seiring kembali pecahnya konflik setelah gencatan senjata pada Juni runtuh. Konflik tersebut meluas hingga Laut Merah dan Yordania, sebelum jeda baru pada akhir Juli untuk memberi ruang bagi upaya diplomatik kembali gagal dipertahankan.

Pembatalan serangan kepada Iran diungkapkan Trump setelah sekutu-sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, memintanya untuk mengupayakan penyelesaian melalui kesepakatan.

Dalam unggahannya di Truth Social, Trump mengatakan dirinya setuju membatalkan serangan tersebut. "Dengan syarat dapat segera mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz secepat mungkin. Semua orang, mulai bekerja dan selesaikan itu,” kata Trump, dikutip dari Bloomberg, Senin (3/8).

Meski serangan sudah dibatalkan, negara-negara produsen di kawasan Teluk terus mencari jalur ekspor alternatif. Turki dan Irak sepakat memperpanjang perjanjian pipa minyak yang sempat berakhir selama satu tahun. Jalur tersebut memiliki kapasitas ekspor hingga 750.000 barel per hari.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa perundingan antara Iran dan Oman telah memasuki tahap akhir. Kedua negara yang berada di sisi Selat Hormuz itu sedang membahas rute baru melalui kawasan tersebut. Namun, juru bicara kementerian mengatakan pembicaraan itu tidak mencakup pembahasan mengenai apakah Selat Hormuz akan ditutup atau tetap dibuka.

Di sisi lain, negara-negara utama OPEC+ menyetujui kenaikan kecil terbaru pada kuota produksi mereka. Langkah ini akan menuntaskan pemulihan pasokan yang sebelumnya dipangkas pada 2023 dan memberi ruang bagi mereka untuk menambah produksi lebih lanjut setelah perang di Timur Tengah berakhir.

Selain itu, Kementerian Energi Kazakhstan mengatakan Caspian Pipeline Consortium (CPC) tetap beroperasi dengan penerimaan minyak sebesar 100.000 ton per hari mulai 1 Agustus setelah penghentian sementara pada Jumat. Meski CPC akan tetap mengizinkan kapal memuat minyak, laju ekspor juga akan bergantung pada kesediaan kapal tanker mengambil risiko melintasi jalur tersebut.

Serangkaian serangan terhadap kapal tanker yang memuat minyak di atau dekat fasilitas Laut Hitam telah mengganggu arus ekspor melalui CPC, yang merupakan salah satu jalur utama ekspor minyak mentah Kazakhstan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani