ESDM Sebut SPBU dengan B50 akan Diberi Pasokan pada Pertengahan Agustus 2026
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan stasiun bahan bakar umum (SPBU) yang memiliki produk biodiesel 50% (B50) akan mulai dipasok pada pertengahan bulan ini.
B50 merupakan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar terbaru yang memadukan 50% minyak kelapa sawit (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) dan 50% minyak solar.
“SPBU yang (ada) B50 semua deliver (dipasok) di pertengahan Agustus ini,” kata Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi saat dihubungi Katadata, Senin (10/8).
Implementasi B50 secara nasional ini sebelumnya telah diluncurkan secara resmi oleh Presiden Prabowo Subianto pada 9 Juli 2026. Eniya menyebut dalam sebulan pasca peresmian, dia tidak menerima keluhan dari penerapan produk biodiesel tersebut.
“Pemakai B50 tidak mengeluhkan apapun,” ujarnya.
PT Pertamina Patra Niaga mencatatkan dua kali lifting atau pengiriman perdana B50 oleh Kilang Pertamina Patra Niaga. Lifting perdana tersebut dilakukan dari Kilang Kasim sebanyak 4.600 kiloliter (KL) B50 ke MT Krasak pada 18 Juli 2026, kemudian disusul Kilang Plaju menyalurkan 8.230 KL B50 ke Integrated Terminal (IT) Palembang pada 22 Juli 2026.
Hasil lifting B50 tersebut kemudian didistribusikan ke SPBU yang tersebar di sekitar wilayah Indonesia Barat dan wilayah Indonesia Timur.
“Lifting perdana B50 oleh Kilang Kasim dan Kilang Plaju merupakan salah satu milestone penting dalam memperkuat kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan energi nasional khususnya melalui implementasi B50 yang dicanangkan pemerintah," ujar VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora dalam siaran pers, dikutip Jumat (24/7).
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah melakukan pertemuan dengan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon A. Mantiri di kediamannya Hambalang, Jawa Barat, Minggu (9/8).
“Dirut Pertamina melaporkan kemajuan dari Program Mandatori B50 yang telah diluncurkan Presiden Prabowo bulan Juli lalu. Serta kesiapan infrastruktur dalam tahapan persiapan mandatori Bioetanol oleh Pemerintah,” tulis akun instagram resmi sekretariat kabinet, dikutip Senin (10/8).
Tak hanya B50, dalam pertemuan tersebut Presiden Prabowo juga memerintahkan pengurangan layer-layer dan anak cucu perusahaan di Pertamina, PLN, dan BUMN lainnya.
Pemangkasan ditujukan agar pengambilan keputusan menjadi lebih cepat, produktivitas lebih meningkat, dan efisiensi seluruh BUMN lebih terjaga.
Sebanyak 57% SPBU Pertamina Menjual B50
Kementerian ESDM sebelumnya mengatakan Pertamina mulai menyalurkan bahan bakar B50 di 57% SPBU yang dikelola mereka. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, jumlah SPBU yang dikelola Pertamina Patra Niaga mencapai 13.603 unit pada kuartal pertama 2025.
“B50 sudah ada di 57% SPBU Pertamina,” kata Eniya saat ditemui di Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7).
Dia mengatakan penyaluran ini dilakukan di berbagai wilayah Indonesia, seperti Pulau Jawa, Sumatra, sebagian Sulawesi. “B50 sudah disalurkan beberapa titik mulai 1 Juli. Di wilayah Cikampek sudah B50 semua, termasuk di Surabaya dan Jakarta,” ujarnya.
Eniya mengatakan walaupun implementasi B50 sudah resmi dimulai, ada waktu transisi hingga 30 September 2026. Hal ini dilakukan karena saat ini masih ada stok B40 di berbagai badan usaha BBM, baik itu Pertamina ataupun swasta.
Pertamina sebagai pemilik SPBU terbanyak di Indonesia dapat menghabiskan sisa stok B40 dalam dua bulan. Sementara itu, 34 badan usaha swasta yang mencampur B50 memerlukan waktu tiga bulan untuk menghabiskan B40.