Harga Sulfur Melonjak, Vale Uji Pirit sebagai Bahan Substitusi
PT Vale Indonesia (INCO) sedang menguji coba mineral Pirit sebagai bahan subtitusi atas sulfur. Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Budiawansyah mengatakan hal ini dilakukan sebagai solusi di tengah lonjakan harga sulfur yang terjadi saat ini.
“Kami pertimbangkan mencoba untuk mengekstraksi zat seperti Pirit sebagai pengganti sulfur. Sejauh ini tes dengan komposisi tertentu menunjukkan hasil yang bagus dan menarik,” kata Budi dalam media gathering di Jakarta, Kamis (13/8).
Pirit merupakan mineral disulfida yang mengandung sekitar 46,6% besi dan 53,4% belerang. Sulfur merupakan komponen penting dalam proses High Pressure Acid Leach (HPAL), teknologi utama yang digunakan untuk mengolah bijih nikel limonit menjadi produk antara, seperti mixed hydroxide precipitate (MHP).
Dia menyebut proses tes ini akan dilakukan lebih lanjut untuk mengetahui titik optimum pirit, agar bisa dimanfaatkan sebagai substitusi tanpa menimbulkan dampak baru. Salah satunya berkaitan dengan pengendalian lingkungan.
“Dalam sebuah kesulitan, kami mencoba melihat peluang baru. Dahulu Pirit tidak ada yang melirik, tapi jadi menarik ketika diekstrak ke tingkat tertentu bisa menghasilkan kadar sulfur yang mencukupi,” ujarnya.
Selain uji coba, Vale juga saat ini masih terus menghitung Pirit dari segi keekonomian.
Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mengatakan kenaikan harga sulfur saat ini berpengaruh terhadap tekanan biaya bahan baku pendukung untuk produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dari smelter HPAL. MHP merupakan produk antara yang dihasilkan dari pengolahan bijih nikel laterit.
APNI mencatat, harga rata-rata impor sulfur melonjak dari US$ 104 per ton pada kuartal I 2024 menjadi US$ 817 per ton pada kuartal II 2026,. Harganya bahkan sempat menembus lebih dari US$ 1.100 per ton pada Juni 2026.
Hal ini diperparah dengan ketergantungan pasokan sulfur dari Timur Tengah mencapai sekitar 80%. Total impor sulfur nasional mencapai sekitar 5,3 juta ton per tahun.
“Kondisi ini menekan biaya operasional HPAL hingga lebih dari 30% dan menjadi salah satu faktor pendorong konversi sebagian kapasitas RKEF ke produksi nickel matte,” kata APNI dalam keterangan tertulisnya, Kamis (13/8).
Kembangkan Sumber Sulfur Domestik
Holding pertambangan nasional, MIND ID telah mengidentifikasi potensi pemanfaatan by-product tambang tembaga dan emas sebagai sumber sulfur alternatif yang dapat menopang kebutuhan industri hilirisasi nikel dalam negeri.
Direktur Perencanaan Pengolahan Sumber Daya Mineral MIND ID, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa MIND ID bersama anggota holding sedang melakukan inventarisasi aktif terhadap potensi tersebut.
"Kita memiliki by product itu tembaga maupun emas itu ada iron oxide dan iron sulfate yang mestinya itu bisa kita proses, diolah, diekstrak untuk menjadi dan diambil sulfurnya maupun diambil dan dijadikan asam sulfat untuk memenuhi hal tersebut," ujar Budi dikutip dari Antara.
MHP ini yang dibutuhkan sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik. Adapun, skala kebutuhannya tergolong besar, dengan asumsi produksi satu ton MHP membutuhkan sekitar 11,7 ton sulfur.
Pertumbuhan industri HPAL di Indonesia berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan sulfur nasional. Kondisi inilah yang menjadikan pengembangan sumber domestik sebagai agenda strategis, bukan sekadar pilihan efisiensi biaya.