Bahlil Targetkan Lifting Minyak capai 612 Ribu Barel per Hari pada 2027

ANTARA FOTO/Bayu Pratama S./kye
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjawab pertanyaan wartawan di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/4/2026). Menteri ESDM melaporkan hasil pertemuan dengan utusan khusus Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri ESDM Rusia kepada Presiden Prabowo Subianto, antara lain mengenai Indonesia akan mendapat pasokan minyak mentah Rusia serta kerja sama pembangunan infrastruktur strategis untuk meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional.
Penulis: Mela Syaharani
Editor: Agustiyanti
31/8/2026, 19.33 WIB

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menargetkan jumlah lifting minyak mencapai 612.500 barel per hari (bph) pada 2027. Angka ini naik dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026 sebesar 610 ribu bph.

“Menuju ketahanan energi, kami harus meningkatkan lifting minyak,” kata Bahlil saat ditemui di Kompleks DPR RI, Senin (31/8).

Dia menyebut, target tersebut akan dicapai melalui penambahan beberapa produksi sumur, seperti yang dikelola oleh Petronas di Wilayah Madura, serta beberapa sumur yang menggunakan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR).

“Terus ada juga beberapa penambahan potensi sumur yang ada di Sumatra. Jadi saya pikir insya allah doakan saja mudah-mudahan tidak ada trouble di sektor listrik atau di pipa,” ucapnya.

Meski target naik, Bahlil mengakui saat ini tengah terjadi penurunan angka lifting minyak. Hal ini disebabkan karena produksi minyak Blok Cepu yang dikelola ExxonMobil menurun.

Menurut dia, blok tersebut seharusnya bisa memproduksi 185 ribu bph pada posisi puncaknya. Namun, kinerja produksinya kini hanya mencapai 142 ribu bph. Selain itu, penurunan angka lifting juga disebabkan adanya masalah kelistrikan yang terjadi di Blok Rokan, Riau yang dikelola oleh anak usaha Pertamina.

“Masalah  ini membuat kami kehilangan kurang lebih 4-5 juta barel. Ini membuat angka lifting tahun ini belum mencapai target sebanyak 610 ribu bph,” ujarnya.

Realisasi lifting hingga Juli 2026

Kementerian ESDM mencatat jumlah lifting minyak (minyak terangkut) Indonesia mencapai 578 ribu bph. Angka tersebut baru mencapai 94,75% dari target yang ditetapkan APBN sebanyak 610 ribu bph tahun ini. 

“Memang sampai hari ini masih kami upayakan untuk bisa mencapai target produksi di 2026,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8). 

Laode menyebut ada beberapa hal yang menyebabkan lifting minyak Indonesia saat ini belum mencapai target. Pertama, terjadi kebocoran pipa TGI di Sumatra pada awal tahun ini. Kebocoran tersebut menyebabkan terganggunya produksi Blok Rokan karena pasokan gas yang terhambat.

Blok Rokan yang dikelola Pertamina merupakan salah satu wilayah kerja migas yang menyumbang produksi terbanyak secara nasional. Kedua, tak hanya kebocoran, Laode mengatakan di sana juga terjadi kendala sistem kelistrikan yang masih terjadi hingga saat ini.

Ketiga, menurunnya produksi Blok Cepu yang juga merupakan penyumbang produksi minyak terbesar. “Tahun ini Blok Cepu memiliki kondisi penurunan produksi alami yang agak ekstrem. Kami sudah melakukan serangkaian diskusi dan berupaya agar penurunan ini bisa direduksi sehingga (produksinya) bisa bertahan,” ujarnya.

Meski masih jauh dari target, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto mengatakan pihaknya masih berharap produksi migas bisa mencapai target. Dia memperkirakan jumlah produksi bisa naik mendekati target 610 ribu bph bulan depan. 

“Perkiraan kami (bulan depan) 607 ribu bph, nanti Oktober (proyeksinya) 610 ribu bph, dan di November atau Desember 2026 (angka) lifting sudah mencapai 617-618 ribu bph,” kata Djoko dalam kesempatan yang sama.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani