Perusahaan Asal Rusia akan Bangun Pabrik Hilirisasi Bauksit di Kalimantan

Youtube Sekretariat Presiden
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia akan menerapkan mandatori bioetanol secara bertahap dengan target mencapai E10-E20 pada 2027.
12/9/2026, 12.47 WIB

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan perusahaan bernama Russian Alumunium Company (Rusal) akan membangun pabrik hilirisasi bauksit menjadi alumina. Rencananya pabrik ini akan dibangun di area Kalimantan.

“Urusan perizinannya sudah hampir di tahap final, kami memang melakukan kolaborasi dan mereka bekerja sama dengan pengusaha dalam negeri,” kata Bahlil saat ditemui di kantornya, Jumat (12/9).

Bahlil tidak merinci berapa jumlah investasi yang digelontorkan untuk proyek tersebut. Menurutnya hal ini masih menunggu waktu.

“Nanti tunggu studi kelayakannya (FS) diselesaikan dahulu,” ujarnya.

Masuknya Rusal ke Indonesia pertama kali diungkapkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam acara Eastern Economic Forum (EEF) Vladivostok, Rusia awal bulan ini.

Presiden menyebut Rusal akan masuk ke Indonesia dalam skala besar untuk mengembangkan kilang bersama kelompok-kelompok Indonesia.

"Rusal akan masuk ke Indonesia dalam skala besar untuk mengembangkan kilang bersama kelompok-kelompok Indonesia," ucapnya dikutip dari Antara.

Prabowo mengatakan Indonesia masih membuka peluang untuk memperluas kerja sama dengan Rusia di berbagai bidang.

"Jadi, kami masih menantikan semakin banyak kerja sama bersama antara Rusia dan Indonesia," pungkasnya.

Bukan Rencana Baru

Masuknya Rusal dalam pengelolaan aluminium RI bukanlah hal baru. Rencana tersebut sudah pernah bergulir sebelumnya, kisaran 2014.

Perusahaan alumunium asal Rusia dan terbesar di dunia, kala itu sudah mulai mencari atau menjajaki siapa mitra lokal yang akan digandeng dalam pendirian pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina. Mereka meminta tenggat waktu tiga bulan untuk bisa mencari mitra.

Menteri Perindustrian MS Hidayat yang kala itu menjabat mengatakan jangka waktu tiga bulan itu akan dipergunakan Rusal untuk mengkaji potensi sumber-sumber bauksit dari daftar calon mitra lokal.

"Setelah tiga bulan baru Rusal memastikan angka investasinya, dalam (pengolahan) alumina. Setelah mereka 'secure' dengan sumber-sumber bauksit itu," ujar Hidayat dikutip dari Antara.

Rusal sebenarnya bukan yang pertama kalinya datang dan menjajaki kerja sama dengan Indonesia. Sebelumnya Rusal telah menjalin nota kesepahaman dengan salah satu perusahaan di Indonesia, tapi belum terdapat tindak lanjut spesifik dari kesepakatan itu.

"Tadi juga mereka minta maaf, (belum ada kelanjutan) itu karena ada masalah global," kata Hidayat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani