Harga Minyak US$ 106 per Barel, Pasar Timbang Risiko Pasca Penutupan Pipa Arab
Harga minyak dunia naik selama dua hari beruntun, seiring dengan pelaku pasar menimbang risiko terhadap pasokan di Timur Tengah. Hal ini diperhitungkan di tengah berhentinya operasional pipa krusial East-West milik Arab Saudi.
Harga Brent naik 0,9% menjadi US$ 106,60 per barel pada pukul 09.32 pagi di Singapura. Sementara itu harga West Texas Intermediate menguat 1,1% menjadi US$ 102,49 per barel.
"Minyak mentah terjebak di antara realitas fisik yang terus mengarah pada hilangnya pasokan dan retorika yang mengarah pada potensi de-eskalasi. Pada akhirnya, pasar akan memberi bobot lebih pada jumlah barel fisik dan infrastruktur daripada sekadar retorika,” kata senior energy trader di CIBC Private Wealth Group., Rebecca Babin, dikutip dari Bloomberg, Selasa (15/9).
Minyak Brent telah melonjak hampir 76% tahun ini seiring meluasnya perang AS-Iran di Timur Tengah. Kenaikan ini juga ditopang oleh serangan terhadap pelayaran di jalur laut Hormuz dan penutupan ladang-ladang minyak.
Gejolak yang berkepanjangan ini, ditambah dampak dari perang Rusia-Ukraina telah mendorong tekanan inflasi, yang membantu imbal hasil Obligasi Pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun menembus level 5% untuk pertama kalinya sejak 2023.
Pipa East-West merupakan jalur alternatif untuk menghindari aliran Selat Hormuz telah ditutup pekan lalu pasca serangan. Perusahaan pemilik pipa yakni Saudi Aramco belum memberikan kepastian kapan pipa tersebut mulai beroperasi kembali.
Arab Saudi kini berupaya meningkatkan pengiriman melalui jalur laut untuk memberikan kompensasi. Dua pejabat setempat mengatakan jalur pipa tersebut akan berhenti beroperasi selama beberapa minggu. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan ia memperkirakan fasilitas tersebut dapat kembali beroperasi segera.
Dari lini diplomasi, Teheran menyatakan tidak akan ada pembicaraan perdamaian dengan Washington sampai syarat-syaratnya dipenuhi. Pernyataan tersebut menyusul komentar dari Presiden AS Donald Trump yang mengatakan Republik Islam tersebut ingin membuat kesepakatan, dengan cepat dan sangat mendesak.
Di Timur Tengah, pasukan AS melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran untuk meningkatkan tekanan pada Teheran. Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam menyatakan sebuah kapal tanker yang mencoba melintasi zona terlarang di bagian selatan Selat Hormuz meledak setelah menabrak ranjau. Komando Pusat AS (menyatakan klaim tersebut palsu.
Tak hanya Timur Tengah dan Rusia-Ukraina, para investor juga memantau perkembangan di Yaman. Kelompok Houthi yang disokong Iran pada hari Senin menembakkan rudal dan drone ke target-target sipil di kota-kota Arab Saudi seperti Khamis Mushait, Abha, dan Taif.