Indonesia Kehilangan 25% Sumber Impor Minyak, Terpaksa Beli dengan Harga Tinggi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan Indonesia kehilangan 25% sumber impor minyak imbas perang Timur Tengah. Situasi kawasan tersebut telah memanas sejak meletusnya perang Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari lalu.
“Sejak terjadinya konflik di Timur Tengah, kita kehilangan 25% sumber impor. Nah yang kami lakukan sekarang adalah mencari sumber impor baru,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, yang dipantau secara daring melalui kanal Youtube Kemendagri, Senin (5/10).
Dia menyebut pencarian pasokan baru ini dibutuhkan agar pemerintah bisa menjaga stok minyak nasional. Tak hanya itu, Laode menyebut mekanisme pencarian pasokan ini sudah tidak menggunakan skema pengadaan, seperti sebelumnya.
Pada cara lama, Pertamina melakukan lelang untuk mendapatkan pasokan impor minyak, namun kondisi saat ini menunjukkan tak ada lagi pihak yang berminat menjadi peserta lelang.
“Jadi kami harus mencari negara-negara yang memiliki kelebihan stok, kami beli dengan harga yang berpotensi lebih tinggi dibandingkan pengadaan biasa,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama Laode mengatakan pemerintah tetap menjaga agar harga BBM subsidi, baik itu Solar ataupun Bensin itu tetap, dan tidak ada kenaikan.
“Karena ini (BBM) adalah komponen terbesar yang dipakai nelayan dan petani,” ucapnya.
Pengalihan Impor
Pemerintah sebelumnya tengah menyiapkan skenario alternatif pasokan minyak mentah (crude) akibat penutupan jalur perdagangan di Selat Hormuz. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan, sebagian sumber impor minyak mentah yang selama ini berasal dari kawasan Timur Tengah akan dialihkan ke sejumlah negara, termasuk AS dan Brasil.
Bahlil menyampaikan hal tersebut selepas menghadiri rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka Jakarta pada Kamis (12/3). “Harus ada alternatif-alternatif yang akan dipakai ketika kondisi Selat Hormuz masih seperti ini,” ujarnya setelah pertemuan.
Langkah diversifikasi impor minyak itu diharapkan dapat memenuhi pasokan energi domestik di tengah gangguan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz. “Saya sudah laporkan (ke presiden) bahwa kita akan mengonversi minyak mentah dari Timur Tengah ke AS seperti Nigeria, Brasil, Australia, dan beberapa negara lain,” ujarnya.
Pada 11 Februari lalu, Bahlil memberikan sinyal akan membeli produk minyak dari AS dengan nilai US$ 15 miliar. Selain itu, peningkatan impor produk petroleum dari AS dilakukan dengan mengalihkan kuota impor dari negara lain.
Bahlil mengatakan, volume pembelian minyak dari Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara bakal dikurangi seiring rencana peningkatan impor dari AS. Pemerintah berencana menambah volume impor minyak mentah dari AS hingga 40% dari total kebutuhan dalam negeri.
Menurut dia, Indonesia baru membeli minyak mentah dari AS sekitar 4% untuk pemenuhan domestik. Selain itu, pemerintah juga berencana menaikan porsi impor LPG dari AS hingga 80-85% untuk kebutuhan nasional.