Guncangan gempa yang sama belum tentu terasa sama di setiap wilayah. Selain jarak dari sumber gempa, kondisi geologi dan karakteristik tanah setempat ikut menentukan seberapa kuat guncangan yang dirasakan.

Untuk memetakan perbedaan itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meluncurkan dua atlas kebencanaan geologi yang mencakup seluruh Indonesia.

"Jadi harapan kami melihat kondisi ini kita bisa petakan di dalam sistem yang terintegrasi. Sehingga siapa pun itu kementerian/lembaga yang mengambil keputusan, mengambil tindakan dalam rangka mitigasi risiko, itu bisa kita menggunakan peta yang sama," ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot dikutip dari keterangan resmi, Jumat (23/10). 

Yuliot menekankan pentingnya sistem yang dibangun bersama. "Yang pertama adalah dengan adanya sistem kita memastikan adanya inovasi sistem, integrasi sistem yang kita bangun bersama-sama," katanya.

Melalui Badan Geologi, Kementerian ESDM meluncurkan Atlas Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi (KRBG) dan Atlas Peta Tapak Lokal Edisi Kedua. Keduanya bisa dimanfaatkan pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, akademisi, maupun masyarakat.

Atlas KRBG menunjukkan tingkat kerawanan suatu wilayah terhadap bahaya gempa bumi. Penilaiannya berdasarkan sumber gempa, katalog kejadian gempa, karakteristik geologi, dan kondisi tanah setempat. Informasi ini bisa menjadi salah satu dasar perencanaan tata ruang, pengembangan permukiman, pembangunan infrastruktur, dan penyusunan langkah mitigasi.

Atlas Peta Tapak Lokal Edisi Kedua memetakan karakteristik tanah yang memengaruhi kuat-lemahnya guncangan. Salah satu parameter utamanya adalah kecepatan gelombang geser rata-rata hingga kedalaman 30 meter (Vs30). Pada edisi terbaru, resolusi petanya meningkat dari grid 300 meter menjadi 30 meter, sehingga variasi kondisi tanah tergambar lebih rinci.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, peningkatan resolusi ini akan memperkuat kajian bahaya gempa maupun perencanaan pembangunan.

"Kami berharap atlas ini dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah, akademisi, dan para perencana dalam mendukung pembangunan yang lebih tangguh terhadap gempa bumi," ujar Lana.

Kedua atlas juga bisa menjadi referensi awal pembangunan infrastruktur energi. Pembangkit listrik, jaringan transmisi, fasilitas minyak dan gas bumi, serta infrastruktur energi lainnya perlu direncanakan dengan mempertimbangkan potensi bahaya geologi, agar aspek keselamatan dan mitigasi diperhatikan sejak tahap awal.

Kedua atlas dapat diakses gratis melalui Portal Mitigasi Bencana Geologi. Kementerian ESDM berharap informasi di dalamnya tidak berhenti sebagai peta, tetapi diterjemahkan menjadi langkah mitigasi dan menjadi acuan pengambilan keputusan, mulai dari pemerintah daerah hingga warga yang hendak membangun rumah.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.