Pemerintah Perkuat Hubungan Perdagangan dengan Afghanistan

Antara
Presiden Joko Widodo (Jokowi) hari ini menerima kunjungan kenegaraan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (5/4).
Penulis: Michael Reily
Editor: Ekarina
7/5/2018, 14.11 WIB

Pemerintah mendorong peningkatan hubungan dagang dan neraca perdagangan  ke pasar nontradisonal, seperti Afghanistan di kawasan Asia Selatan. Upaya itu diperkuat salah satunya dengan menyelenggarakan pelatihan ekspor-impor khusus untuk pengusaha Afghanistan sebagai  bentuk pengembangan kapasitas dan kemitraan dengan pebisnis Indonesia.

“Pelatihan  memberikan pengetahuan mengenai perdagangan internasional kepada para pengusaha,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Arlindadalam keterangan resmi dari Jakarta, Senin (7/5).

Menurut Arlinda, sebanyak 30 pengusaha Afghanistan berpartisipasi dalam pelatihan.  Materi yang disajikan dalam program pelatihan tersebut di antaranya meliputi pengenalan produk potensial Indonesia dan Afghanistan, tinjauan kegiatan ekspor-impor, prosedur dan dokumen ekspor-impor, sistem pembayaran ekspor-impor, prosedur transportasi dan penanganan kargo ekspor-impor, ketentuan perdagangan internasional (INCOTERMS 2010), kalkulasi dan penentuan harga ekspor, latihan pengisian dokumen ekspor, serta kisah sukses para eksportir.

“Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan para peserta mampu memahami seluk-beluk proses ekspor dan imporserta berbagi informasi tentang produk potensial antar negara,” ujar Arlinda.

Pelatihan ekspor-impor ke negara tersebut  merupakan tindak lanjut kunjungan bilateral Presiden Joko Widodo ke Afghanistan pada Januari 2018 lalu terkait kerja sama peningkatan ekonomi dan perdagangan antara kedua negara. 

Arlinda menjelaskan, pelatihan ekspor-impor ini juga menjadi salah satu cara Indonesia meningkatkan ekspor ke negara tujuan ekspor nontradisional, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih besar.

Salah satunya terlihat dari jumlah buyer Afghanistan yang mengunjungi Trade Expo Indonesia 2017 sebanyak 266 orang. Kunjungan buyer Afghanistan tersebut menghasilkan transaksi dagang sebesar US$ 64 ribu dengan produk utama yang diminati antara lain perlengkapan rumah tangga, produk dari kayu, produk herbal, kertas dan produk kertas.

Pada 2017, nilai ekspor Indonesia ke Afghanistan tercatat sebesar US$ 20,2 juta, naik 24,69% dibandingkan 2016 yang sebesar US$ 16,2 juta. Sedangkan impor dari Afghanistan tahun 2017 tercatat sebesar US$ 29 ribu, atau turun 6,45% dibandingkan tahun 2016 yang sebesar US$ 31 ribu.

Arlinda berharap para peserta mampu memahami seluk-beluk proses ekspor dan impor. “Khususnya proses penyelesaian administrasi sesuai prosedur dan dokumen; sistem pembayaran ekspor, transportasi, dan penanganan kargo; keterampilan kalkulasi harga, serta berbagi informasi tentang produk potensial antar negara,” ujarnya.

Reporter: Michael Reily