Kementerian Perindustrian mengeluhkan minimnya infrastruktur internet di sentra-sentra industri kecil dan menengah (IKM). Padahal, pihaknya ingin mendorong pelaku usaha IKM untuk mengembangkan bisnisnya secara online melalui program e-smart.

Direktur Jenderal IKM Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan, instansinya sudah meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk memfasilitasi internet di 50 sentra IKM. Namun, Kominfo hanya menyanggupi 11 sentra saja.

"Kami tidak tahu apa kendala dari Kominfo? Tapi kami harap 50 itu sudah ada di 2019," kata Gati saat menghadiri acara Kick Off Roadshow Kampus Shopee 2018 di Roemah Kuliner, Jakarta, Selasa (16/1). (Baca juga: Ditjen Pajak Usulkan E-Commerce Luar Negeri Kena Pajak)

Menurut dia, program e-smart mengusung sembilang komoditas unggulan yang akan dipasarkan secara online yaitu kosmetik, fashion, makanan, minuman, kerajinan, perhiasan, mebel, herbal dan produk logam. Tahun ini, lokakarya e-smart  ditargetkan diikuti oleh 4.270 IKM, dan menjadi 5.240 tahun depan. (Baca juga: Potong Rantai Distribusi, Kementan Luncurkan E-Commerce Toko Tani)

Asisten Deputi Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Mira Tayyiba mengakui infrastruktur internet masih jadi kendala. "Indonesia luas. Ada 514 kabupaten/kota. Itu (infrastruktur) tantangannya," ucapnya.

Namun, menurut dia, semestinya masalah infrastruktur jaringan internet bisa teratasi setelah proyek Palapa Ring selesai di 2019. “Semoga akhir atau pertengahan 2019 sudah ada yang selesai dari pegelaran fiber optic ini. Janjinya 2019 semua bisa akses internet," kata Mira.

Adapun dalam soal pemasaran secara online, ia mengingatkan adanya risiko keamanan yang harus diatasi. Ia pun mengingatkan serangan virus Ransoware WannaCry tahun lalu. "Ini yang jadi salah satu aspek kalau mau go online, aspek ini harus secure (aman) dulu," ucapnya.

Berdasarkan data Kominfo, IKM memberikan kontribusi sebesar 58% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Khusus terkait ekonomi kreatif, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Badan Pusat Statistik mencatat kontribusinya terhadap PDB terus meningkat. Pada 2015, industri ekonomi kreatif menyumbang Rp 852 triliun, lalu naik menjadi Rp 922,58 triliun di 2016.