Bulan Depan, Pemerintah Mulai Campur Plastik dan Aspal jalan di Bekasi

ARIEF KAMALUDIN | KATADATA
Penulis: Michael Reily
Editor: Pingit Aria
12/7/2017, 12.30 WIB

Pemerintah akan memanfaatkan campuran sampah plastik dengan aspal untuk pembangunan jalan. Rencananya, beberapa ruas jalan di Bekasi akan menjadi proyek percontohan.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan, proyek ini akan dijalankan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). "Kami sudah mulai pilot project, bulan depan," kata Luhut saat menjadi pembicara pada Indo Waste Forum 2017 di Jakarta, Rabu (12/7).

Menurut Luhut, pemerintah belajar dari India yang sudah melakukan pembangunan jalan dengan campuran sampah plastik dan aspal. Dia menyebutkan di India telah dibangun sedikitnya 120 ribu kilometer jalan dengan cara memanfaatkan sampah plastik.

(Baca juga: Pemerintah Segera Uji Coba Campuran Aspal dan Plastik di Bekasi)

Luhut mengatakan bahwa Kementerian PUPR telah melakukan kunjungan ke India untuk melihat langsung proyek jalan yang lapisan aspalnya menggunakan campuran sampah plastik. Pemerintah juga telah mengundang Professor Rajagopalan Vasudevan dari India untuk mengetes campuran bahan yang ideal di Indonesia.

Tak hanya untuk mengurangi sampah plastik, Luhut juga menyebut proyek ini dapat menghemat anggaran perawatan jalan. "Akan terjadi pengurangan cost sampai 7 persen," kata Luhut. Dia juga menambahkan, daya tahan aspal yang dicampur sampah plastik lebih kuat dari aspal biasa.

Sebelumnya, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian PUPR sedang meneliti komposisi yang sesuai untuk campuran tersebut. "Kandungan plastiknya bisa mencapai 6 persen sampai 10 persen secara maksimal. Tahun ini bisa kami mulai," kata Menteri PUPR Basuki Hadimoeljono di Gedung Kementerian Koordinator Kemaritiman, Jakarta, Jumat(7/7) lalu.

Basuki menyebut, beberapa sumber sampah plastik yang dapat menjadi bahan baku antara lain sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung di Bali serta sedimentasi sampah di kanal Cikarang Bekasi Laut (CBL).

Reporter: Michael Reily