Pelonggaran Lockdown Dunia Dinilai Tak Signifikan Dongkrak Ekspor RI

ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/wsj.
Sebuah peti kemas dinaikkan ke dalam kapal kargo di Pelabuhan Pantoloan, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (2/5). Kebijakan pelonggaran lockdown sejumlah negara dinilai tak berdampak signifkan terhadap peningkatan ekspor RI.
Editor: Ekarina
4/5/2020, 14.42 WIB

Kebijakan pelonggaran karantina wilayah (lockdown) yang dilakukan sejumlah negara dinilai belum akan berdampak signifikan terhadap kinerja ekspor Indonesia dalam waktu dekat. Pasalnya, pandemi corona menghambat seluruh rantai pasok perdagangan mulai dari bahan baku hingga produk jadi.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menyatakan, ekspor diperkirakan baru akan membaik pada September, kendati kapasitasnya tidak sebesar sebelumnya. 

"Kalau kita lihat pasar ekspor  yang terbesar salah satunya ke Amerika Serikat (AS), yaitu 10% dari total ekspor non-migas. Sekarang AS masih berjuang dengan penanganan pandemi, jadi mungkin tidak dapat langsung terlihat kenaikan ekspor kita," kata Bhima kepada katadata.co.id, Senin (4/5).

(Baca: Ekspor Makanan Olahan Indonesia ke Tiongkok Meningkat saat Pandemi)

Lamanya proses pemulihan perdagangan internasional akibat pandemi corona berdampak terhadap rantai pasok bahan baku hingga produk jadi. Kondisi ini kian diperparah dengan rendahnya kapasitas produksi di dalam negeri dan permintaan negara tujuan ekspor. 

Tak hanya itu, anjloknya harga minyak dunia di sisi lain juga menyebabkan menurunnya harga komoditas ekspor unggulan dari Tanah Air, seperti batubara atau minyak sawit mentah atau cruide palm oil (CPO).

"Jadi kondisi ini kalau kita mau ekspor komoditas ke negara yang sudah dilonggarkan dari lockdown tetap saja tidak bisa meningkatkan nilai ekspor secara makasimal," kata dia.

Meski begitu, Bhima memperkirakan setidaknya ada  lima komoditas yang paling cepat pulih setelah dihantam pandemi corona. Komoditas itu adalah pangan,  pertanian, obat-obatan baik itu industri farmasi maupun jamu herbal dan energi seperti batubara serta minyak bumi.

Dia berharap, pada 2021 ketika banyak industri yang terkena pandemi atau lockdown mulai pulih, permintaan  akan batubara, biodiesel dan komdoditas energi lain dari Indonesia kembali meningkat.

(Baca: Terpukul Corona, Pengusaha dan Nelayan Mulai Kesulitan Menjual Ikan )

Seperti diketahui, beberapa negara dikabarkan mulai melonggarkan aturan lockdown sejak pekan lalu. Kebijakan ini dilakukan menyusul keberhasilan Tiongkok mengakhiri kebijakan serupa pada 8 April. 

AS menjadi salah satu yang mulai melonggarkan lockdown. Melansir The Star, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, berencana membuka kembali negaranya pada awal bulan depan. Beberapa negara bagian seperti Georgia, Oklahima dan Alaska bahkan sudah melonggarkan aturan karantina wilayah untuk kepentingan bisnis. 

Selain AS, Jerman juga mulai mengizinkan toko penjual barang non-esensial buka kembali. Meskipun begitu, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan negaranya “masih berjalan di atas es yang tipis” untuk memiulai kehidupan normal. Renacananya, pada 4 Mei Merkel akan membuka kembali sekolah dengan memprioritaskan siswa tingkat akhir.

Reporter: Tri Kurnia Yunianto