Industri Keramik Tertekan Harga Gas Industri dan Banjir Keramik India

ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Perajin melakukan proses produksi keramik di sentra industri keramik Kiaracondong, Bandung, Jawa Barat, Rabu (27/2/2019).
Penulis: Andi M. Arief
2/7/2025, 16.35 WIB

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia atau Asaki menyatakan kinerja industri keramik nasional kini ditekan harga gas industri dan banjirnya keramik impor di pasar. Pada paruh pertama 2025. peningkatan utilisasi industri keramik tertahan di level 71%.

Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto mengatakan rata-rata utilisasi industri keramik pada Januari-Juni 2025 seharusnya sebesar 75%. Tingginya harga gas tambahan dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk dinilai menjadi tantangan utama.

"Faktor utamanya adalah masalah gangguan pasokan gas yang disertai mahalnya harga gas surcharge dari PGN senilai US$ 16,77 per mmbtu," kata Edy kepada Katadata.co.id, Rabu (25/6).

Untuk diketahui, industri keramik masuk dalam tujuh industri yang berhak mendapatkan harga gas senilai US$ 6,5 per mmbtu. Namun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral membatasi pemakaian gas dengan harga khusus hanya 78% dari kebutuhan di bagian barat Pulau Jawa.

Selain itu, Edy mengatakan tertahannya produksi keramik domestik disebabkan melonjaknya volume keramik impor dari India sebesar 150% secara tahunan pada Januari-April 2025. Karena itu, pasar keramik nasional kini dibanjiri keramik impor di bawah harga pasar.

"Kami mengindikasi praktek dumping dari industri dari India. Sebab, Indonesia menjadi salah satu tujuan barang ekspor asal India yang seharusnya ke Amerika Serikat pasca perang tarif," katanya.

Sebelumnya pemerintah Amerika Serikat mengenakan tarif sebesar 26% pada seluruh produk asal Negeri Bollywood. Dengan demikian, total produk yang dibuat di India dan di Negeri Hollywood pasarkan lebih mahal 36% mengingat adanya tarif universal sebesar 10%.

Edy mendorong pemerintah untuk mempercepat realisasi program 3 juta rumah selambatnya paruh kedua tahun ini. Langkah tersebut dinilai akan mendongkrak utilisasi industri keramik nasional dari saat ini sebesar 70% menjadi 80% pada Juni-Desember 2025.

"Program 3 juta rumah akan menciptakan permintaan baru yang mendongkrak konsumsi ubin keramik, genteng keramik, dan produk sanitary," katanya.

Edy menghitung program 3 juta rumah berpotensi menyerap 106 juta meter persegi keramik. Angka tersebut setara dengan hampir 60% dari kapasitas terpasang industri keramik nasional.

Adapun utilisasi industri keramik pada paruh pertama hanya mencapai 71% dengan volume produksi 62 juta meter persegi. Angka utilisasi tersebut lebih rendah dari target akhir tahun lalu, yakni sebesar 75%.

Sementara itu, dampak peningkatan anggaran program renovasi rumah dinilai akan berdampak minimal atau hanya bertambah 3,5 juta meter persegi. Walau demikian, Edy mengakui langkah tersebut akan meringankan tekanan yang kini dialami industriawan.

Seperti diketahui, anggaran program renovasi rumah naik menjadi Rp 43,6 triliun yang membuat target rumah yang direnovasi naik dari 38.504 unit menjadi 2 juta unit sampai akhir tahun ini. Program tersebut akan dilakukan melalui Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya atau BSPS.

"Estimasi penambahan anggaran renovasi rumah hanya akan mendongkrak konsumsi keramik domestik antara 1% sampai 2% dari kapasitas terpasang," kata Edy kepada Katadata.co.id, Rabu (25/6).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief