Tarif 19% AS Berlaku Hari Ini, RI Masih Negosiasi Diskon Bagi Komoditas Unggulan

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/YU
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan paparan pada konferensi pers kinerja ekspor semester I tahun 2025 di Jakarta, Senin (4/8/2025). Total ekspor selama semester I tahun 2025 mencapai 135,41 miliar USD atau naik 7,70 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dimana peningkatan ekspor kumulatif tersebut didukung penguatan ekspor non migas sebesar 8,96 persen atau 128,39 miliar USD.
7/8/2025, 11.56 WIB

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan tarif resiprokal 19% yang ditetapkan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) mulai berlaku hari ini, Kamis (7/8). Namun, Budi mengatakan Indonesia masih mengupayakan negosiasi dengan AS untuk sejumlah komoditas.

“Kami masih proses negosiasi, kami ingin ada komoditas yang tidak diproduksi oleh AS itu bisa mendapatkan (pembebasan tarif),” kata Budi saat ditemui di Kementerian Perdagangan, Kamis (7/8).

Budi menjelaskan batas akhir negosiasi untuk komoditas tersebut diharapkan selesai sebelum 1 September 2025. Dia menyebut negosiasi tarif dengan AS memang dilakukan secara bertahap, sejak awal pengumuman.

“Tarif resiprokal berjalan, kami sambil negosiasi dan berunding lagi. Karena memang diberi kesempatan untuk berunding. Mudah-mudahan sebelum 1 September sudah selesai, masih banyak yang kami usahakan untuk mendapatkan tarif yang lebih bagus,” ujarnya.

Budi masih enggan merincikan komoditas apa saja yang masih dirundingkan dengan AS agar tarif berkurang, dia hanya menekankan komoditas tersebut tidak diproduksi AS.

Tembaga Bebas Tarif

Menteri Investasi dan Hilirisasi atau Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani sebelumnya menyebut, Indonesia telah memperoleh pembebasan tarif resiprokal dari AS untuk komoditas tembaga. 

“Ada beberapa barang atau komoditas yang tidak dihasilkan AS itu tarifnya bisa menjadi kurang (dari 19%). Kebetulan untuk tembaga sudah disetujui (AS) menjadi 0%,” kata Rosan dalam Indonesia-Japan Executive Dialogue 2025, Rabu (6/8). 

Selain tembaga, menurut Rosan, pemerintah juga sedang meminta penurunan tarif untuk beberapa komoditas komoditas seperti nikel dan lain-lain. Dia menyebut ada sinyal permintaan penurunan tarif untuk nikel dan lainnya juga akan disetujui.

“Mungkin tidak 0%, tapi jauh di bawah 19%. Itu hal positif yang ingin saya bagikan,” ujarnya.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan penurunan tarif bagi komoditas yang tidak diproduksi AS merupakan bagian dari negosiasi tarif dagang yang tengah berlangsung dengan pemerintahan Donald Trump.   

Menurut Susi, negosiasi tarif impor barang-barang dari Indonesia hingga 0% diupayakan untuk komoditas unggulan yang berasal dari sumber daya alam. Beberapa komoditas yang disasar adalah kakao, kopi, minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO), karet hingga nikel.  

“Kalau kita fokuskan negosiasi pada komoditas unggulan itu bisa 0%, dan ini bisa jadi andalan kita,” ujar Susiwijono dalam forum diskusi media yang digelar UOB Indonesia Selasa (22/7).  

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani