Penjualan Mobil Masih Lesu, Pemerintah Duga Konsumen Pindah ke Kendaraan Listrik

ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/rwa.
Pengunjung memadati ruang pamer kendaraan pada hari terakhir pameran otomotif GIIAS 2025 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten, Minggu (3/8/2025). GAIKINDO mencatat selama pelaksanaan pameran GIIAS 2025 jumlah pengunjung mengalami kenaikan sebesar tujuh persen dibanding GIIAS 2024, sementara nilai transaksi termasuk pembelian mobil baru turun akibat tekanan ekonomi.
13/8/2025, 14.30 WIB

Pemerintah menduga adanya pergeseran tren penjualan mobil dari konvensional ke mobil listrik. Hal tersebut menanggapi data penyusutan penjualan mobil baru lebih dari 10% secara tahunan pada Januari-Juli 2025. 

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko IPK), Muhammad Rachmat Kaimuddin, mengakui penjualan mobil baru masih dalam tren pelemahan selama tujuh bulan pertama tahun ini. Namun, Rachmat menaksir total konsumen yang membeli mobil pada tahun ini masih sama dengan tahun lalu.

"Kami melihat penjualan mobil bekas naik pesat. Kalau spekulasi saya, jangan-jangan orang merasa tidak sepadan lagi membeli mobil baru kalau masih menggunakan teknologi lama," kata Rachmat di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Rabu (13/8).

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo mendata penjualan mobil per Juli 2025 naik hampir 5% menjadi 60.552 unit jika dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, angka tersebut tercatat lebih rendah 18,43% dibandingkan capaian Juli 2024 yang mencapai 74.230 unit.

Sementara penjualan mobil baru pada Januari-Juli 2025 terdata susut 10,09% secara tahunan menjadi 435.391 unit. 

Rachmat memperkirakan total orang yang membeli mobil pada Januari-Juli 2025 tidak turun. Namun preferensi konsumsi mobil berpindah menjadi mobil bekas atau mobil dengan teknologi baru.

Sebab, Rachmat menemukan penjualan mobil listrik atau EV pada tumbuh tinggi pada tahun ini. Gaikindo mendata, penjualan EV dari pabrikan ke diler pada paruh pertama mencapai 36.633 unit atau naik 171,35% secara tahunan. BYD mendominasi penjualan pada Januari-Juni 2025 sebesar 38,46% atau 14.092 unit.

Sementara itu, penjualan mobil hibrid secara wholesale naik 20,52% secara tahunan pada semester pertama tahun ini menjadi 28.927 unit. Dengan demikian, kontribusi penjualan LCEV pada tahun ini naik 74,82% menjadi 65.560 unit. Secara kumulatif, kontribusi LCEV dari total penjualan mobil pada Januari-Juni 2025 adalah 17,49%.

"Dari data yang kami lihat, penjualan EV naik pesat. Penjualan mobil hibrid juga naik, tapi tidak sepesat EV. Semetara itu, penjualan ICE turun," katanya.

Rachmat menekankan konversi penggunaan mobil ICE menjadi EV atau hibrid menjadi penting untuk menurunkan beban pemerintah. Sebab, 60% dari bahan bakar minyak yang beredar dari dalam negeri masih bergantung pada impor.

Badan Pusat Statistik mencatat nilai impor minyak mentah tahun lalu mencapai US$ 10,35 miliar dengan volume 16,85 juta ton. Angka tersebut setara hampir 90% dari nilai impor tahun lalu yang mencapai US$ 11,7 miliar.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief