Perluas Ekspor, RI Mulai Perundingan Dagang dengan Afrika dan Amerika Latin

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/YU
Menteri Perdagangan Budi Santoso bersiap mengikuti rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (15/9/2025). Komisi VI DPR menyetujui pagu anggaran Kementerian Perdagangan sebesar Rp1,4 triliun untuk tahun anggaran 2026.
29/9/2025, 13.49 WIB

Menteri Perdagangan, Budi Santoso berencana menyasar pasar Amerika Selatan dan Afrika pada tahun depan. Hal tersebut tercermin dari dimulainya proses perundingan dengan Afrika Selatan dan Pasar Bersama Selatan atau Mercosur.

Busan menyampaikan negara-negara di Afrika menginginkan perjanjian dagang secara kawasan yang notabenenya memakan waktu. Karena itu, Busan berencana menyasar Afrika Selatan untuk membuka ruang negosiasi perjanjian dagang bilateral dengan negara lain di Afrika.

 Dia mengatakan Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Djatmiko Bris Witjaksono, telah bertemu dengan delegasi dari Afrika Selatan yang menyatakan bersedia melakukan perundingan  perjanjian dagang.

"Mudah-mudahan negosiasi ini memancing negara-negara Afrika lainnya," kata Busan di kantornya, Senin (29/9).

Badan Pusat Statistik menunjukkan nilai ekspor ke Benua Afrika masuk tren pertumbuhan sejak 2005 sampai 2022. Nilai ekspor tertinggi ditemukan pada 2022, yakni US$ 7,5 miliar atau sekitar Rp 118,13 triliun. Pada 2024, nilai ekspor ke Afrika tercatat susut 7,84% secara tahunan menjadi US$ 6,34 miliar

Selain Afrika, Busan berencana mengincar pasar Amerika Latin pada tahun depan. Sejauh ini, Indonesia baru memiliki perjanjian dagang dengan dua negara di Amerika Selatan, yakni Peru dan Chile.

Busan menyampaikan perundingan perjanjian dagang dengan Mercosur tersebut telah dimulai pekan lalu, Kamis (25/9). Untuk diketahui, Mercosur merupakan organisasi ekonomi dan politik yang beranggotakan Argentina, Brasil, Paraguay,dan Uruguay.

Djatmiko menyampaikan pembukaan akses pasar melalui perjanjian dagang internasional merupakan program utama Kementerian Perdagangan. Sebab, perjanjian dagang dinilai akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional masa depan.

Dia mengatakan perjanjian dagang bilateral adalah kegiatan vital di tengah meningkatnya tensi dan dinamika geoekonomi dan geopolitik. Sebab, perjanjian dagang dinilai membuat performa ekspor Indonesia terus tumbuh dengan mengoptimalkan perjanjian dagang.

Berdasarkan paparan Kemendag, pemerintah saat ini memiliki 20 perjanjian dagang yang telah terimplementasi. Sementara itu, pemerintah sedang melakukan 16 perundingan perjanjian dagang dan meratifikasi 10 perjanjian dagang yang baru disetujui.

"Kami berharap dapat terus melakukan diversifikasi pasar ekspor Indonesia. Ini menjadi salah satu program utama dari Kementerian Perdagangan," kata Djatmiko.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief