Titiek Seoharto Desak Pemerintah Tindak Oknum di Balik Impor Beras Ilegal Sabang

ANTARA FOTO/Fauzan
Mantan istri Presiden Terpilih Prabowo Subianto, Titiek Soeharto berjalan keluar dari kediaman Prabowo Subianto jelang pelantikan presiden dan wakil presiden periode 2024-2029 di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Minggu (20/10/2024).
24/11/2025, 15.49 WIB

Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Seoharto mendorong pemerintah untuk menindak oknum yang meloloskan beras impor sejumlah 250 ton dari Thailand melalui Sabang, DI Aceh. Seperti diketahui, beras impor tersebut dapat lolos memanfaatkan status Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas atau KPBPB.

Titiek menegaskan impor beras tidak diperlukan lantaran seluruh kebutuhan beras sudah dapat dipenuhi dari dalam negeri. Adapun Titiek menyerahkan pengelolaan 250 ton beras impor yang sudah terlanjur masuk ke dalam negeri pada pemerintah.

"Siapapun yang mencoba memasukkan beras impor, kami akan tindak secara hukum. Sebab, pemerintah sudah menetapkan tidak ada impor beras tahun ini dan produksi beras nasional sudah swasembada. Jadi, jangan coba-coba," kata Titiek di Gedung DPR, Senin (24/11).

Sementata itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman akan menindak oknum yang mengimpor beras tersebut. Namun Amran menilai volume beras yang diimpor tidak akan mengganggu tata kelola beras di dalam negeri mengingat jumlahnya yang kecil.

Amran mengingatkan bahwa surplus neraca produksi beras nasional telah mencapai 4 juta ton. Hal tersebut membuat Perum Bulog mencatatkan rekor volume cadangan beras pemerintah sepanjang masa sebesar 4,2 juta ton pada Juli 2025.

"Apa sih artinya beras impor sejumlah 250 ton? Itu hanya mengganggu industri beras secara politik, sebab kami telah melarang 1 liter pun beras impor tidak boleh masuk ke dalam negeri," kata Amran.

Amran menduga tujuan utama impor beras tersebut adalah meraup keuntungan akibat anjloknya beras di pasar global. Menurutnya, harga beras di pasar ekspor telah susut dari US$ 650 per ton pada tahun lalu menjadi US$ 340 per ton saat ini.

Dengan kata lain, Amran menyampaikan harga beras impor saat ini hanya sekitar Rp 5.600 per kilogram. Dengan demikian, keuntungan dari penjualan beras impor dapat mencapai Rp 7.817 per kg mengingat rata-rata nasional harga beras medium mencapai Rp 13.502 per kg.

Amran menjelaskan penurunan harga beras global disebabkan penghentian impor oleh pemerintah pada tahun ini. Amran mencatat total volume beras impor pada 2023-2024 mencapai sekitar 7 juta ton.

"Kami telah dilobi untuk menerima impor dari negara tetangga. Lobi tersebut telah sampai ke presiden, namun tekad kami tahun ini adalah swasembada beras," katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief