Pesawat Smart Air Mendarat Darurat, Menhub Minta Publik Tunggu KNKT

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wpa.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan paparan pada rapat kerja bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (8/5/2025). Rapat tersebut membahas program kerja Kementerian Perhubungan tahun 2025 dan hasil pemeriksaan BPK semester I tahun anggaran 2024.
27/1/2026, 21.27 WIB

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi meminta publik untuk menunggu hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait insiden pendaratan darurat pesawat Smart Air. 

 Ia menjelaskan, meskipun insiden tersebut dikategorikan sebagai pendaratan darurat, KNKT tetap memiliki kewenangan penuh untuk meneliti dan menginvestigasi penyebab kejadian tersebut.

 “Oh sementara, nanti kita tunggu KNKT. Walaupun dia sifatnya pendaratan darurat, tetap KNKT harus meneliti atau menginvestigasi sebab kenapa dia mengeluarkan pendaratan daruratnya,” ujar Menhub saat ditemui di kompleks Parlemen DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (27/1).

 Insiden penerbangan yang berkaitan dengan aspek keselamatan wajib melalui proses investigasi sesuai prosedur. Menurutnya, hasil investigasi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyampaikan informasi kepada publik.

 “Kalau ada hal terkait investigasi seperti itu, KNKT tetap harus menunggu hasil penelitian. Karena kan sebagai otoritas, tidak boleh mengeluarkan pernyataan sebelum ada hasil investigasi,” ia menambahkan.

 Dudy juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi informasi terkait insiden penerbangan agar tidak menimbulkan spekulasi atau opini yang belum didukung fakta.

 “Itu akan memengaruhi, jangan sampai kita mengirim opini kepada sesuatu yang belum keluar hasil investigasinya,” ujar dia.

Diduga Gangguan Mesin

 Sebelumnya, Pesawat Smart Air tipe C208B dengan registrasi PK-SNS yang melayani rute Nabire (NBX)–Kaimana (KNG) melakukan pendaratan darurat di Bandar Udara Douw Aturure Nabire, Papua Tengah, pada Senin (27/1/2026) pukul 13.01 WIT.

 Berdasarkan laporan awal, pesawat mengalami gangguan pada mesin (engine). Pilot in Command (PIC), Capt. Tania K., semula memutuskan untuk melakukan Return to Base (RTB) ke Bandara Douw Aturure Nabire. Namun, seiring dengan menurunnya daya dorong (thrust power), PIC kemudian memutuskan melakukan pendaratan darurat di ujung pantai landasan pacu 17 bandara tersebut.

 Direktorat Jenderal Perhubungan Udara memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Seluruh penumpang dan awak pesawat yang berjumlah total 13 orang telah dievakuasi dengan selamat ke terminal bandara. Saat ini, proses penarikan pesawat ke area pantai masih dilakukan.

 “Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus melakukan koordinasi intensif melalui UPBU Douw Aturure Nabire dengan operator penerbangan, TNI, kepolisian, serta pihak terkait lainnya untuk memastikan penanganan situasi berjalan dengan aman dan terkendali,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa dalam keterangannya, Selasa (27/1). 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina