Pengiriman Logistik Jelang Ramadan Diprediksi Naik 10–30%, Ditopang E-Commerce

ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/foc.
Industri logistik nasional bersiap menghadapi lonjakan pengiriman paket jelang Ramadan dan Idulfitri 2026.
Penulis: Kamila Meilina
2/2/2026, 12.36 WIB

Industri logistik nasional bersiap menghadapi lonjakan pengiriman paket jelang Ramadan dan Idulfitri 2026. Sektor e-commerce dan retail diprediksi menjadi kontributor terbesar peningkatan volume, seiring naiknya daya beli masyarakat untuk kebutuhan makanan, fesyen, hingga parsel Lebaran.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman, Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo), Budiyanto Darmastono, menilai pelaku industri telah melakukan persiapan jauh-jauh hari. Kesiapan mencakup penambahan armada, tenaga kerja, hingga penguatan infrastruktur operasional.

“Tren peak season selalu berulang setiap tahun. Karena itu, perusahaan jasa pengiriman sudah meningkatkan kapasitas sejak awal, baik dari sisi armada, SDM, maupun jaringan distribusi,” ujar Budiyanto kepada Katadata.co.id, Senin (2/2). 

Menurut Asperindo, sektor yang paling banyak menyumbang lonjakan adalah e-commerce dan retail konsumen. Kategori yang mendominasi meliputi makanan dan minuman, seperti kurma, makanan siap saji, hampers, pakaian dan aksesori, serta kebutuhan pokok menjelang puasa dan Lebaran.

Asperindo memproyeksikan volume pengiriman Ramadan 2026 tumbuh sekitar 10–20% dibanding tahun sebelumnya. Namun, sejumlah tantangan tetap membayangi, mulai dari kepadatan lalu lintas saat mudik, keterbatasan infrastruktur, hingga potensi cuaca ekstrem.

“Pada Ramadan tahun ini ada risiko hujan deras di beberapa wilayah yang dapat memperlambat pengiriman. Karena itu koordinasi dengan pemerintah dan regulator terus dilakukan, terutama terkait kebijakan lalu lintas dan kelancaran infrastruktur,” kata Budiyanto.

Perusahaan Logistik Menambah Shift hingga Manfaatkan Teknologi

Perusahaan jasa pengiriman menghadapi kondisi serupa. Komisaris J&T Express, Iwan Senjaya menyatakan perusahaannya telah menyiapkan strategi berbasis data historis untuk menghadapi lonjakan permintaan. 

“Dengan merekrut pekerja musiman, menambah shift malam, serta mengoptimalkan pusat sortir agar distribusi lebih efisien,” kata dia kepada Katadata.co.id, Sabtu (31/1). 

Ia optimis perusahaan bisa mencatatkan pertumbuhan. Sebab, mengacu pada data Ramadan tahun lalu, J&T mencatat lonjakan volume lebih dari 40% dibanding bulan sebelumnya. “Melihat tren belanja Ramadan di e-commerce yang terus tumbuh, kami optimistis volume tahun ini akan melampaui Januari,” kata Iwan.

Sementara itu, Marketing Group Head JNE, Eri Palgunadi, menyampaikan JNE memproyeksikan volume pengiriman Ramadan tahun ini tumbuh 20–30% dibanding periode yang sama tahun lalu, didorong sektor fesyen, makanan-minuman, dan kebutuhan rumah tangga.

Untuk mengantisipasi kemacetan mudik dan pembatasan angkutan, JNE menerapkan distribusi multimoda melalui jalur darat, udara, dan laut, serta pemantauan berbasis teknologi guna menjaga ketepatan waktu.

“Kami optimistis dapat menjaga keandalan layanan selama Ramadan dan Idulfitri, sejalan dengan semangat Connecting Happiness bagi masyarakat,” kata dia kepada Katadata.co.id, Sabtu (31/1).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina