Sejumlah Konglomerat Bertemu Prabowo, Minta iklim Usaha Kondusif
Sejumlah pengusaha raksasa Indonesia melakukan audiensi dengan Presiden Prabowo Subianto di kediaman pribadi Presiden di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (9/1). Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani menyatakan bahwa pertemuan itu membahas sejumlah hal termasuk meminta pemerintah untuk menciptakan iklim kondusif bagi pengusaha.
Shinta menjelaskan, pertemuan itu menjadi momentum untuk memperkuat sinergi pemerintah dan dunia usaha. Apindo menyatakan komitmennya untuk memperluas penciptaan lapangan kerja di berbagai sektor strategis, mulai dari industri tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, hingga makanan dan minuman (mamin).
“Arahan Presiden untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja menjadi dorongan kuat bagi dunia usaha. Apindo siap mengambil peran aktif dalam memperluas kesempatan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” kata Shinta dalam keterangannya, Selasa (10/2).
Dalam dialog itu, Presiden Prabowo disebut meminta Apindo secara rutin memberikan masukan dan data riil dari lapangan sebagai dasar perumusan kebijakan ekonomi. Prabowo secara khusus mengajak pengusaha untuk bersama-sama membuka lebih banyak kesempatan kerja. Sektor padat karya seperti tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, serta mamin disebut sebagai prioritas penguatan.
Dalam pertemuan itu, Presiden juga disebutnya meminta rekomendasi konkret terkait tantangan ketersediaan bahan baku bagi industri manufaktur. Isu tersebut dinilai krusial mengingat manufaktur merupakan sektor strategis dalam penciptaan kerja dan ketahanan ekonomi nasional.
Selain itu, Apindo dan pemerintah memiliki pandangan sejalan mengenai upaya peningkatan penerimaan negara melalui perluasan basis pajak tanpa membebani pelaku usaha yang telah patuh.
Shinta turut menyoroti pentingnya kepastian regulasi ketenagakerjaan agar tetap menciptakan iklim investasi yang kondusif. Dunia usaha menilai kebijakan ketenagakerjaan perlu berfokus pada peningkatan produktivitas, tidak semata pada aspek pengupahan.
“Peningkatan produktivitas tenaga kerja harus menjadi perhatian utama agar daya saing industri nasional terus menguat,” kata Shinta.
Pembahasan juga menyentuh kerja sama perdagangan internasional, termasuk Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). APINDO memandang perjanjian tersebut sebagai peluang strategis untuk memperluas pasar ekspor dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.
“Debottlenecking regulasi, perizinan, logistik, dan biaya produksi menjadi kunci agar industri kita mampu bersaing dengan negara kawasan seperti Vietnam,” ujar Shinta.
Apindo juga menekankan pentingnya kepastian hukum terkait tata ruang dan pertanahan melalui kebijakan satu peta nasional (one map policy). Dunia usaha, lanjutnya, mendukung visi Presiden Prabowo dalam pengentasan kemiskinan, pemenuhan gizi anak, serta penyediaan pendidikan berkualitas.