Pengusaha Retail Antisipasi Penurunan Pengunjung Mal Setelah Lebaran
Pengusaha pusat perbelanjaan dan retail menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kinerja penjualan setelah momentum Lebaran berakhir yang diprediksi menjadi masa penurunan kunjungan alias low season di berbagai mal.
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan pihaknya tengah menyiapkan sejumlah program bersama pemerintah, termasuk dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Pariwisata, guna mendorong aktivitas belanja dan wisata domestik.
Strategi utama yang disiapkan di antaranya mencakup kampanye belanja yang membidik momentum libur sekolah pada pertengahan tahun.
“Kita mungkin di bulan liburan sekolah, sekitar Juni, bikin sesuatu. Selain memberikan diskon, juga ada program yang bisa mendatangkan turis ke Indonesia,” kata Budihardjo ditemui usai konferensi pers Opening Ceremony & Buka Bersama BINA (Belanja di Indonesia Aja) Lebaran 2026, di Senayan City, Jakarta Selatan, Jumat (6/3).
Menurutnya, kolaborasi antara sektor retail dan pariwisata dinilai penting untuk menjaga perputaran ekonomi domestik, terutama ketika aktivitas belanja cenderung menurun setelah puncak konsumsi pada Ramadan dan Lebaran.
Selain menghadapi periode penurunan konsumsi setelah Lebaran, pelaku retail juga menyoroti tantangan pengelolaan stok barang akibat padatnya momentum belanja pada awal tahun. Tahun ini, sejumlah hari besar seperti Imlek, Cap Go Meh, Ramadan, hingga Lebaran berlangsung dalam rentang waktu yang berdekatan.
Siapkan Stok Barang Lebih Awal
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha harus menyiapkan stok barang lebih awal agar tidak kehilangan momentum penjualan.
“Untuk tahun depan kita harus mulai pikirkan karena puasa dan Lebaran akan makin dekat. Artinya, stok harus cukup dari Januari sampai Maret,” kata Budihardjo.
Ia juga berharap adanya koordinasi yang lebih erat dengan sejumlah kementerian dan lembaga, termasuk Bea Cukai, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Pertanian, agar pasokan barang, terutama yang berasal dari impor, tidak mengalami keterlambatan.
Menurutnya, kelancaran pasokan menjadi kunci agar pelaku usaha dapat memanfaatkan momentum konsumsi masyarakat secara optimal.
“Barang-barang itu harus ada, kalau tidak kita bisa kehilangan momentum penjualan,” ujarnya.
Budihardjo mengungkapkan sebagian pelaku usaha menghadapi kendala dalam pemenuhan stok barang impor yang banyak dijual di pusat perbelanjaan. “Kita berusaha memenuhi stok. Stok yang ada dari lokal cukup terjaga. Namun untuk impor, kami menghadapi masalah,” katanya.
Budihardjo menilai, kebutuhan tambahan stok barang menjelang Lebaran merupakan hal yang wajar karena meningkatnya permintaan masyarakat. Namun, tahun ini sejumlah momen liburan seperti Natal dan Tahun Baru (Nataru), Imlek, serta Ramadan dan Idulfitri berlangsung berdekatan pada kuartal I 2026.
Kondisi tersebut mendorong meningkatnya permintaan impor atas barang stok sehingga kuota impor yang diajukan pelaku usaha dinilai lebih besar dari biasanya.