Perang Iran Hantam Industri Kemasan, Stok Bahan Baku Plastik Tinggal 3 Bulan

Vecteezy.com/Kitsanaphong Burarat
Prancis menunda larangan penggunaan gelas plastik sekali pakai hingga 2030. Aturan tersebut seharusnya berlaku mulai 1 Januari 2026.
2/4/2026, 14.35 WIB

Bahan baku plastik kemasan diprediksi hanya cukup hingga 3 bulan ke depan akibat keterbatasan pasokan dari Timur Tengah. 

Ketua Indonesian Packaging Federation Henky Wibawa mengatakan industri kemasan masih sangat bergantung pada bahan baku impor, khususnya polypropylene (PP) dan polyethylene (PE) yang digunakan untuk kemasan plastik. Bahan baku tersebut sebagian besar dipasok dari Singapura, Thailand, China, India, dan Korea Selatan, serta sebagian kecil dari Timur Tengah. Gangguan pasokan akibat konflik geopolitik tidak hanya berdampak langsung dari Timur Tengah, tetapi juga merembet ke negara pemasok lain.

“Beberapa pemasok bahkan sudah menyatakan force majeure karena rantai pasok mereka juga terdampak. Saat ini industri masih mengandalkan stok yang tersedia,” ujar Henky kepada Katadata.co.id, Kamis (2/4).

Ia menambahkan, gangguan pasokan tersebut juga menyebabkan harga bahan baku meningkat signifikan. Harga penawaran bahan baku plastik bahkan naik sekitar 1,5 hingga 2 kali lipat dibandingkan sebelum terjadi gangguan rantai pasok global.

Terkait ketersediaan bahan baku, Henky mengatakan sulit memprediksi secara pasti karena adanya force majeure dari pemasok. Namun secara umum stok bahan baku plastik industri kemasan diperkirakan masih bisa bertahan sekitar 2–3 bulan, tergantung kondisi pasokan ke depan.

Guna mengantisipasi kekurangan bahan baku, industri kemasan mulai mencari alternatif material bersama produsen barang konsumsi atau fast moving consumer goods (FMCG). 

Salah satu alternatif yang dipertimbangkan adalah mengganti material kemasan flexible dari polypropylene menjadi poliester yang saat ini belum terdampak gangguan pasokan. Selain itu, kemasan kertas juga mulai dipertimbangkan sebagai alternatif jika memungkinkan.

Di sisi pasar, Henky mengatakan pemasaran industri kemasan masih didominasi pasar domestik dengan porsi sekitar 85–90%. Permintaan kemasan paling besar berasal dari sektor makanan dan minuman dengan porsi sekitar 60–70%, diikuti sektor personal care dan household care seperti sabun dan deterjen sekitar 20–30%.

Ia menilai prospek industri kemasan di Indonesia masih cukup baik seiring pertumbuhan populasi, distribusi logistik, serta perkembangan ritel modern dan e-commerce yang mendorong kebutuhan produk kemasan.

Meski demikian, industri tetap menghadapi tantangan dari sisi regulasi domestik dan ketidakpastian geopolitik global yang dapat mempengaruhi pasokan bahan baku dan biaya produksi.

“Namun kami tetap melihat industri kemasan di Indonesia masih memiliki peluang tumbuh, terutama dengan adanya investasi baru dari luar negeri di sektor kemasan,” ujar Henky.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina