ID Food dan SGN akan Merger Jadi Holding Pabrik Gula, Rampung Akhir 2026
Badan Pengelola Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) akan melakukan merger dua perusahaan gula yakni PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID FOOD dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) atau Sugar Co.
Kepala BP BUMN Dony Oskaria mengatakan merger dua perusahaan ini akan membuat Indonesia memiliki satu holding pabrik gula yang menguasai 60% dari total pasar di Indonesia.
“Konsolidasi ini akan selesai tahun ini. Insya Allah mudah-mudahan semester dua rampung,” kata Dony dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (8/4).
Selain pembentukan holding, dia menyebut merger ini bertujuan agar Sugar Co bisa fokus menjadi perusahaan agrikultur dan manufaktur bagi komoditas gula serta tanaman lainnya. Sementara ID FOOD akan memiliki fokus bisnis sebagai trading company.
“Jadi memang ini sengaja kami lakukan sehingga mereka fokus pada bisnis utama,” ujarnya.
Dia menyebut BUMN saat ini memang sedang melakukan transformasi terhadap 1100 perusahaan yang dilakukan melalui empat cara. Pertama, melakukan likuidasi bagi perusahaan yang memang tidak lagi layak untuk terus dijalankan.
Kedua, melakukan divestasi pada perusahaan yang memang tidak ingin mereka masuki lebih dalam dan buka merupakan bisnis utama. Ketiga melakukan konsolidasi bisnis dan keempat melakukan restrukturisasi.
Dony mengatakan industri gula dalam negeri saat ini menghadapi masalah kebocoran gula rafinasi yang masuk ke dalam pasar. Sugar Co membukukan rugi mencapai Rp 680 miliar tahun ini. Kondisi ini disebabkan karena pergerakan harga gula yang tidak cukup baik akibat impor gula yang tidak terkontrol.
Pemerintah pada tahun lalu telah melakukan subsidi Rp 1,5 triliun kepada pasar untuk mengambil seluruh gula yang ada di masyarakat. Namun hal ini tidak memberikan dampak yang signifikan.
Selain itu, dia menyampaikan sektor gula Indonesia juga menghadapi masalah terkait jumlah produktivitas lahan per hektare tang belum maksimal. Oleh sebab itu, pemerintah juga akan melakukan perbaikan pabrik gula agar produksinya bisa meningkat.
“Kami juga membutuhkan regulasi agar petani gula tidak mengalami harga jual yang tidak menguntungkan,” ucapnya.