Bahan Baku Menipis, Lotte Chemical Cari Pasokan Bahan Baku dari Asia dan Afrika
Lotte Chemical Indonesia (LCI) mengatakan perusahaan sedang berupaya mendapatkan pasokan bahan baku dari negara lain, baik dari negara-negara Asia hingga Afrika. Upaya ini untuk mengatasi menipisnya stok bahan baku nafta dan LPG yang sebelumnya hampir 100% didapatkan dari Timur Tengah.
Perang yang terjadi di kawasan tersebut menghambat distribusi energi dan bahan baku utama industri petrokimia. Akses Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk, telah ditutup oleh Iran sejak perang ini berlangsung akhir Februari lalu.
“Saat ini kami mengalami kekurangan bahan baku, seperti nafta dan LPG. Kami terus berupaya membeli bahan baku dari negara lain, namun sangat sulit untuk memperoleh kembali pasokan bahan baku tersebut,” kata Corporate Planning General Manager LCI Lee Dae Lo saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (14/4).
Beberapa negara yang dibidik seperti Singapura, Malaysia, maupun Nigeria yang berada di Benua Afrika. Sumber bahan baku saat ini sangat dibutuhkan agar kegiatan operasional perusahaan bisa terus berjalan.
“Kami tetap berupaya untuk beroperasi dan menjaga produksi demi menjamin keberlangsungan industri hilir di Indonesia,” ujarnya.
Penurunan Tingkat Produksi
LCI sebelumnya telah mengumumkan bahwa mereka menurunkan tingkat produksinya di tengah krisis pasokan bahan baku plastik yang dipicu gangguan rantai pasok global. Direktur Management Support LCI, Cho Jin-Woo mengatakan perusahaan tetap beroperasi meski dengan kapasitas yang disesuaikan.
“LCI hingga saat ini masih beroperasi namun dengan menurunkan tingkat produksinya, dikarenakan rute pengadaan bahan baku telah diubah akibat hambatan logistik yang ada,” ujar dia dalam keterangan resmi, Rabu (8/4).
LCI merupakan bagian dari Lotte Chemical Corporation yang mengoperasikan fasilitas naphtha cracker di Indonesia dengan kapasitas produksi mencapai jutaan ton per tahun. Di tengah tekanan itu, LCI disebut memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pasar domestik.
Alokasi produk dan kapasitas produksi yang tersedia difokuskan untuk menjaga pasokan bagi industri hilir dan manufaktur nasional, guna mencegah gangguan lebih lanjut pada rantai produksi dalam negeri.
“Prioritas utama kami adalah menjaga keberlangsungan pasokan bagi industri dalam negeri,” kata Cho.
Ia menambahkan, perusahaan terus mengoptimalkan sumber daya yang ada untuk meminimalkan dampak terhadap pelanggan sekaligus menjaga stabilitas sektor manufaktur.