Pengunaan Kemasan Plastik Capai 48%, Kemenperin Dorong Beralih ke Kertas

ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/hm
Pembeli memilih kemasan plastik di toko ritel Wijaya Pangan, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (7/4/2026). Pedagang menyebut harga kemasan plastik di wilayah tersebut mulai naik sejak sebelum Ramadhan hingga mencapai dua kali lipat yang dipengaruhi dampak situasi geopolitik global.
21/4/2026, 18.51 WIB

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong peningkatan penggunaan kemasan berbasis kertas di industri makanan dan minuman (mamin). Langkah ini untuk mengurangi ketergantungan plastik di tengah krisis pasokan akibat konflik. 

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menjelaskan komposisi kemasan di industri makanan dan minuman masih didominasi plastik, khususnya flexible packaging yang mencapai sekitar 48%. Meski demikian, penggunaan kemasan berbasis kertas terus meningkat dan dinilai memiliki ruang pengembangan yang besar. 

“Nah untuk yang dari kertas itu sudah mencapai 28%. Ini cukup besar,” ujarnya di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa (21/4).

Putu menambahkan, kemasan kertas atau paperboard telah banyak digunakan pada berbagai produk seperti susu dan minuman lainnya, serta dinilai sudah kompetitif dari sisi biaya. 

Menurut Putu, kemasan berbasis kertas saat ini semakin kompetitif dan berpotensi menjadi pendorong perubahan di industri kemasan. Namun, masih diperlukan investasi, terutama pada sisi teknologi dan fasilitas pengemasan. 

Selain kertas, pemerintah juga mendorong pengembangan kemasan berbasis bahan hayati yang dapat terurai. Saat ini, kapasitas produksi kemasan jenis ini mencapai sekitar 30.000 hingga 35.000 ton per tahun dengan bahan baku seperti singkong, rumput laut, dan serat selulosa. 

“Memang ada kemasan-kemasan yang dari bahan hayati dan itu cukup bagus, degradable, dia bisa terurai. Tapi penggunaannya masih spesifik,” ujar Putu.

Namun, ia mengakui kemasan ramah lingkungan tersebut belum dapat menggantikan plastik secara luas karena kapasitasnya masih terbatas.  Di sisi lain, pengembangan kemasan alternatif juga masih menghadapi tantangan teknologi, terutama untuk produk makanan yang membutuhkan daya tahan terhadap air, minyak, dan kelembaban. 

“Untuk food itu kan ada air, ada minyak, dan itu lembab. Nah itu yang perlu ditingkatkan teknologinya, supaya bisa menahan kelembaban, menahan minyak, dan bertahan dari air,” ujarnya.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin, Merrijantij Punguan Pintaria, mengatakan diversifikasi bahan baku kemasan penting agar industri memiliki alternatif di tengah kondisi pasokan yang tidak ideal. 

“Jadi untuk mendiversifikasi bahan baku, pada saat kondisi tidak ideal sudah mempunyai alternatif,” ujarnya.

Ia menyebut sejumlah alternatif kemasan yang dapat dimanfaatkan industri, seperti recycle PET, botol kaca, serta kemasan berbasis kertas berupa aseptik packaging. Menurutnya, kemasan aseptik memiliki keunggulan karena tidak memerlukan rantai pendingin dan memiliki umur simpan lebih panjang. 

“Kemasan aseptik packaging ini banyak keuntungan, karena tidak membutuhkan cold chain dan tidak membutuhkan unit pendingin pada saat display,” kata dia.

Meski biaya antarjenis kemasan tidak dapat dibandingkan secara langsung, Merrijanti menilai biaya keseluruhan relatif sebanding. Karena itu, pemerintah mendorong pelaku industri yang masih menggunakan plastik untuk beralih ke alternatif lain, khususnya kemasan berbasis kertas. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina