Biaya Produksi Membengkak Imbas Konflik Global, Pupuk Kaltim Lakukan Efisiensi

Katadata/Kamila Meilina
Corporate Secretary Pupuk Kalimantan Timur, Anggono Wijaya di Silaturahmi Media, Jakarta Pusat, Rabu (29/4)
29/4/2026, 15.09 WIB

PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) memilih jalur efisiensi operasional untuk menghadapi kenaikan biaya sejumlah komponen produksi, termasuk bahan kemasan plastik dan karung, di tengah dinamika ekonomi global. 

Sekretaris Perusahaan Pupuk Kaltim Anggono Wijaya mengatakan strategi dilakukan agar tekanan biaya tidak berdampak terhadap kinerja bisnis perusahaan.

Kenaikan harga komponen penunjang produksi juga disebutnya tak hanya dialami PKT, tetapi juga dirasakan banyak perusahaan lain. Karena itu, perseroan fokus menjalankan langkah efisiensi di berbagai lini usaha.

“Adanya kenaikan harga dari beberapa komponen seperti kemasan dan lain-lain. Sebenarnya sama dengan dinamika global saat ini, bukan hanya PKT yang merasakan tapi saya yakin perusahaan lain juga pasti sama,” ujar Anggono dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Rabu (29/4).

Menurut dia, langkah utama yang dijalankan perusahaan adalah melalui program operational excellence. Melalui program itu, PKT memastikan fungsi-fungsi operasional berjalan optimal dengan dukungan tata kelola yang baik dan pengelolaan risiko yang kuat.

“Cara yang kita lakukan itu adalah efisiensi. PKT punya program operational excellence, jadi bagaimana kita memastikan fungsi-fungsi operasional itu dijalankan dengan baik, dengan tata kelola yang benar, dan juga dengan penjaminan risiko yang kuat,” katanya.

Ia menjelaskan, strategi efisiensi dilakukan untuk mengimbangi kenaikan biaya pada komponen lain, sehingga secara keseluruhan tidak memberikan tekanan besar terhadap kinerja usaha perseroan.

“Poinnya ada kenaikan, tapi kita coba efisiensi di lain hal. Sehingga secara keseluruhan itu tidak berdampak terhadap bisnis PKT,” ucap Anggono.

Selain itu, perusahaan juga menjalankan program revamping atau peremajaan pabrik sebagai bagian dari strategi efisiensi jangka panjang. Menurut Anggono, langkah tersebut dapat meningkatkan efisiensi operasional pabrik, terutama dari sisi penggunaan energi.

“Revamping ini sebenarnya peremajaan pabrik. Dengan adanya peremajaan pabrik, pabrik menjadi lebih efisien, jadi penggunaan konsumsi gasnya itu bisa menurun sebesar 4 mmBTU,” katanya.

Ia menambahkan, pendanaan program revamping sepenuhnya berasal dari internal perusahaan melalui skema investasi tahunan, tanpa menggunakan dana pemerintah.

“Nah pendanaan revamping ini sendiri murni menggunakan biaya internal perusahaan atau PKT melalui investasi tahunan,” ujar Anggono.

Selain efisiensi biaya, anak usaha Pupuk Indonesia itujuga mencatatkan kinerja produksi yang solid pada kuartal I 2026.  Anggono menyebut total produksi Pupuk Kaltim sepanjang tiga bulan pertama tahun ini mencapai sekitar 2,14 juta ton. Produksi tersebut terdiri atas tiga produk utama, yakni urea, NPK, dan amonia.

“Dari capaian kinerja kuartal I tahun 2026, Pupuk Kaltim mampu mencatatkan kinerja produksi yang solid dengan total produksi sekitar 2,14 juta ton,” ujarnya.

Di sisi stok, perusahaan memastikan ketersediaan pupuk dalam kondisi aman dan siap disalurkan melalui jaringan distribusi ke berbagai wilayah Indonesia. Per 27 April 2026, total stok pupuk subsidi yang terdiri dari urea dan NPK tercatat mencapai 618.393 ton.

Menurut Anggono, tingkat service stock untuk urea mencapai 131% atau di atas ketentuan minimum. Sementara untuk NPK mencapai 196%. Dengan stok yang melebihi batas layanan minimum tersebut, perusahaan optimistis kebutuhan pupuk petani tetap aman.

“Artinya dengan stok yang melebihi dari service stock, kita bisa menjamin pasokan untuk petani aman,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina