Industri Otomotif AS Ketar-ketir, Trump Didesak Tolak Mobil Cina

Reuters
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping
12/5/2026, 14.08 WIB

Industri otomotif Amerika Serikat (AS) mendesak Presiden AS Donald Trump untuk menolak akses mobil Cina ke pasar domestik AS menjelang pertemuannya dengan Presiden Cina Xi Jinping pekan ini. 

Melansir Reuters (11/5), pelaku industri hingga anggota parlemen lintas partai khawatir masuknya kendaraan Cina akan mengancam daya saing industri otomotif nasional dan keamanan data AS.

Sebelumnya, Trump pada Januari lalu dalam forum Detroit Economic Club menyatakan dirinya terbuka jika produsen otomotif Cina ingin membangun pabrik di AS dan mempekerjakan tenaga kerja lokal.

"Itu akan menjadi luar biasa," kata Trump saat itu. “Saya suka itu. Biarkan Cina masuk, biarkan Jepang masuk.”

Pernyataan itu memicu kekhawatiran di kalangan industri otomotif AS yang selama ini aktif melobi pemerintah untuk membatasi kendaraan Cina melalui tarif tinggi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan aturan keamanan data yang ketat.

Produsen otomotif Cina dinilai memiliki dukungan negara yang besar, kapasitas produksi yang masif, teknologi EV yang kompetitif dan harga jual yang murah. 

Produsen mobil, pemasok suku cadang, industri baja, serikat pekerja hingga politisi khawatir hal itu bisa menghancurkan industri otomotif AS maupun produsen negara lain yang beroperasi di negara tersebut. 

Para politisi AS bahkan secara terbuka meminta Trump tak membuat kesepakatan dengan Xi Jinping untuk membuka jalan investasi otomotif Cina di AS. 

Bentuk penolakan lainnya adalah dengan mendorong pengesahan Connected Vehicle Security Act yang akan mempermanenkan aturan pelarangan kendaraan Cina atas alasan pengumpulan data.

Rancangan undang-undang itu merupakan kelanjutan dari aturan era Presiden AS sebelumnya, Joe Biden, yang secara efektif melarang kendaraan Cina masuk ke pasar AS. Aturan dinilai akan menyulitkan pemerintahan berikutnya untuk membatalkan larangan tersebut.

Selain itu, DPR AS juga tengah membahas aturan yang lebih ketat dengan melarang kemitraan industri otomotif domestik dengan perusahaan Cina.

Anggota DPR AS dari Michigan, Debbie Dingell dan John Moolenaar, mengatakan kendaraan modern kini menjadi perangkat pengumpul data berjalan yang merekam lokasi, pergerakan, hingga infrastruktur secara real time.

“Setiap kendaraan di jalanan Amerika merupakan perangkat pengumpul data berjalan dan kami tidak bisa membiarkan kendaraan atau komponen asal Cina menjadi bagian dari sistem tersebut,” tulis mereka dalam pernyataan bersama, dikutip dari Reuters (11/5).

Secara terpisah, kelompok industri otomotif AS menyatakan Cina menjadi ancaman langsung bagi daya saing global, keamanan nasional, dan basis industri otomotif AS.

Kekhawatiran industri AS juga dipicu ekspansi agresif kendaraan Cina di Eropa dan Meksiko. Tahun lalu, pangsa pasar merek mobil Cina di Eropa naik dua kali lipat menjadi 6%, termasuk menguasai 14% pasar Norwegia dan 11% pasar Inggris.

Di Meksiko, sekitar 34 merek otomotif Cina kini telah dipasarkan dan menguasai sekitar 15% pasar kendaraan domestik dengan harga yang jauh lebih murah dibanding mobil di AS.

Salah satu contohnya adalah mobil listrik Geely EX2 yang dijual mulai US$22.700 di Meksiko, jauh lebih murah dibanding harga termurah Tesla Model 3 di AS yang mencapai US$38.630.

Manajer Divisi Toyota Motor North America, David Christ, mengatakan harga murah kendaraan Cina sulit disaingi produsen lain.

“Jelas ada dukungan pemerintah dalam skala tertentu, jika tidak mereka tidak mungkin bisa menjual di harga tersebut,” ujar Christ.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina