Lion Air Optimistis Pariwisata dan Umrah Tetap Tumbuh di Tengah Jatuhnya Rupiah

ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/nym.
Petugas darat melambaikan tangan kepada jamaah calon haji saat pemberangkatan jamaah calon haji kloter pertama asal Kalimantan Selatan di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (5/5/2025).
Penulis: Kamila Meilina
Editor: Yuliawati
2/6/2026, 18.41 WIB

Lion Group optimistis permintaan perjalanan wisata dan umrah tetap tumbuh di tengah pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan biaya operasional industri penerbangan.

Corporate Communication Strategic Lion Air Group, Danang Mandala Prihartono, mengatakan keyakinan tersebut didorong oleh tingginya minat masyarakat untuk melakukan perjalanan baik untuk kebutuhan wisata, bisnis, maupun ibadah.

Tingginya permintaan itu menjadi alasan Lion Group melalui BookCabin kembali menggelar BookCabin Travel Fair. Menurutnya, kebutuhan masyarakat untuk bepergian menggunakan transportasi udara masih menunjukkan tren positif.

"Kami optimistis bahwa tren atau permintaan untuk bepergian menggunakan pesawat akan terus tumbuh," kata Danang dalam konferensi pers BookCabin Travel Fair di Jakarta, Selasa (2/6).

Ia mengatakan saat ini industri perjalanan sedang memasuki periode low season atau musim sepi. Namun kondisi tersebut tidak mengurangi optimisme perusahaan terhadap prospek sektor pariwisata dan transportasi udara.

Selain sektor pariwisata, Lion Group juga melihat prospek positif pada pasar perjalanan umrah. Danang mengatakan permintaan perjalanan ibadah dinilai tetap kuat karena didorong oleh kebutuhan masyarakat untuk menjalankan ibadah.

"Mengenai tren perjalanan umrah, kami, Lion Air, serta para mitra travel juga sama-sama optimistis. Karena ibadah merupakan sebuah panggilan dan niat yang sudah ada di masyarakat," ujarnya.

Untuk mendukung pertumbuhan pasar tersebut, Lion Group memperkuat konektivitas penerbangan menuju Jeddah dengan menghubungkan berbagai kota di Indonesia melalui Jakarta.

Sebagai contoh, calon jamaah dari Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dapat menggunakan Batik Air menuju Bandara Soekarno-Hatta sebelum melanjutkan penerbangan Lion Air ke Jeddah. Skema serupa juga tersedia bagi penumpang dari sejumlah kota lain seperti Pontianak, Ketapang, Palangkaraya, Solo, Semarang, Yogyakarta, Lampung, dan Bengkulu.

Danang mengatakan Lion Air saat ini melayani rata-rata sembilan penerbangan per minggu menuju Jeddah menggunakan pesawat Airbus A330-300 dan Airbus A330-900neo dengan kapasitas hingga 433 kursi per penerbangan.

Ia menegaskan perusahaan tidak melihat adanya penurunan permintaan perjalanan umrah pada tahun ini. Sebaliknya, Lion Group justru meningkatkan frekuensi penerbangan dari sebelumnya enam kali per minggu menjadi sembilan kali per minggu untuk mengakomodasi kebutuhan pasar.

"Kalau untuk penurunan, kami selalu mengedepankan peluang. Kami optimistis permintaan perjalanan umrah akan terus meningkat," kata Danang.

Menurut dia, perluasan jaringan penerbangan dan kolaborasi dengan mitra tour dan travel menjadi strategi utama perusahaan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina