Peritel Catat Perubahan Drastis Pola Belanja, Konsumen Fokus Kebutuhan Pokok
Pelaku usaha ritel mencatat perubahan signifikan dalam pola konsumsi masyarakat seiring melemahnya daya beli, terutama pada kelompok kelas menengah dan aspiring middle class. Mereka kini lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan pokok dibandingkan dengan kebutuhan lainnya ketika berbelanja.
Inisiator Affilisi Global Retail Association (AGRA) sekaligus Wakil Presiden Komisaris PT Matahari Putra Prima Tbk, Roy Nicholas Mandey, mengatakan pelemahan daya beli tersebut terlihat langsung dari aktivitas konsumen di gerai ritel.
"Kasir kami melayani konsumen setiap hari, jadi sangat riil dan sangat terlihat. Konsumen berbelanja basket size-nya berapa, value size-nya berapa," ujar Roy dalam acara Kelas Menengah Indonesia di Persimpangan “Membedah KIMCI 2026 dan Implikasinya bagi Dunia Usaha di Jakarta Selatan, Kamis (4/6).
Perubahan daya beli masyarakat bukan lagi sekadar persepsi, melainkan fakta yang terlihat dari perilaku konsumen sehari-hari. Roy menyatakan kelompok masyarakat yang paling terdampak adalah aspiring middle class, yang jumlahnya mencapai hampir setengah populasi Indonesia.
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan proporsi kelas menengah terus menurun dari 21,5% atau 57,3 juta orang pada 2019 menjadi 16,9% atau 47,9 juta orang pada 2024.
Sebaliknya, kelompok ‘menuju kelas menengah’ (aspiring middle class) meningkat hingga 48,8%, artinya semakin banyak masyarakat yang rentan turun kelas di tengah tekanan ekonomi.
"Jadi yang ingin saya sampaikan, pergeseran ini sangat nyata karena daya beli. Daya beli bukan lagi isu, tetapi fakta," kata Roy.
Fakta atas tekanan pada kelompok itu tercermin dari perubahan pola belanja yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Ia mencontohkan, jika satu dekade lalu satu keluarga dapat memenuhi beberapa troli saat berbelanja di supermarket, kini kondisi tersebut berubah drastis.
"Sepuluh tahun lalu, satu keluarga yang masuk supermarket bisa membawa empat troli. Ayah satu troli, ibu satu troli, dua anak masing-masing juga membawa troli. Mereka membeli kebutuhan yang berbeda-beda. Sekarang satu keluarga datang hanya dengan satu keranjang," ujarnya.
“Degradasi itu terlihat jelas bagi kami. Tidak perlu observasi khusus karena kami melihatnya setiap hari,” ujar Roy.
Perubahan Prioritas Belanja Ubah Strategi Bisnis Ritel
Perubahan perilaku konsumen turut memengaruhi strategi bisnis pelaku ritel. Menurut Roy, banyak peritel kini mengurangi ukuran gerai atau downsizing karena jumlah pengunjung dan nilai transaksi tidak lagi sebesar sebelumnya.
Ia mencontohkan, hypermarket berukuran besar dengan luas sekitar 5.000 meter persegi kini cenderung menahan ekspansi. Sebaliknya, format minimarket dan supermarket yang lebih kecil justru menjadi pilihan utama untuk pengembangan usaha.
Roy menambahkan penurunan disposable income dan discretionary income membuat masyarakat semakin selektif dalam berbelanja. Konsumen kini lebih fokus pada kebutuhan pokok dan mengurangi pembelian barang-barang non-esensial.
"Kalau dulu satu keluarga bisa belanja Rp1,8 juta sekali datang, sekarang Rp400 ribu sampai Rp500 ribu saja sudah dianggap bagus. Mereka membeli kebutuhan yang benar-benar penting, seperti beras, gula, minyak goreng, dan mi instan. Kalau masih ada sisa uang, baru membeli makanan ringan atau cokelat untuk anak-anak," ujarnya.
Perlu Kebijakan untuk Jaga Daya Tahan Kelas Menengah
Pola perubahan prioritas konsumsi dan belanja kebutuhan pokok juga tercatat dalam Survei Katadata Insight Center (KIC) bertajuk Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) 2026.
Tekanan inflasi membentuk ulang prioritas konsumen. Data 2015-2024 menunjukkan porsi pengeluaran untuk makanan tetap menjadi yang terbesar, mencapai 23,1% pada 2024. Sementara itu, pengeluaran untuk kebutuhan rumah tangga berada di kisaran 16,5%.
Sebaliknya, belanja barang tahan lama terus menurun dari 3,9% pada 2015 menjadi 2,6% pada 2024. Belanja jasa juga cenderung turun dari 5,7% menjadi 5,2%.
Roy menilai kondisi itu perlu menjadi perhatian pemerintah karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian nasional. Porsi kontribusi kelas menengah terhadap konsumsi rumah tangga mencapai 53,88% dan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 53,9%.
Pemerintah didorong untuk menyiapkan kebijakan yang bisa menjaga daya tahan kelompok kelas menengah agar konsumsi domestik tetap terjaga.
"Kalau kelompok miskin penting karena dampak sosialnya besar, maka kelompok menengah penting karena memiliki nilai ekonomi strategis. Mereka adalah motor penggerak ekonomi," kata Roy.
Ia mengingatkan target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi akan sulit dicapai apabila tekanan terhadap daya beli kelas menengah terus berlanjut. Menurutnya, selain mendorong industrialisasi dan hilirisasi, pemerintah juga perlu memastikan kelompok kelas menengah tetap memiliki kemampuan konsumsi yang memadai untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional.