Pelemahan Rupiah Jadi Efek Berantai Industri Tekstil, Harga Produk Terancam Naik
Pelemahan nilai tukar rupiah menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai memberi tekanan berlapis terhadap industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Kondisi ini menciptakan efek berantai yang akan meningkatkan biaya produksi dari hulu hingga hilir, berpotensi memicu kenaikan harga produk di pasar domestik.
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Danang Girindrawardana, mengatakan tekanan kurs sangat besar karena industri tekstil masih bergantung pada bahan baku impor. API mencatat sekitar 70% bahan baku yang digunakan industri TPT nasional berasal dari luar negeri.
Artinya, harga bahan baku impor akan menjadi lebih mahal ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS. "Ya, biaya ini jadi beban tanggungan perusahaan," kata Danang kepada Katadata.co.id, Kamis (4/6).
Kondisi itu menciptakan efek berantai terhadap struktur biaya industri, sebab tekanan biaya yang terus meningkat di tingkat pembelian bahan baku dan produksi akan diteruskan ke harga produk jadi di tingkat konsumen.
Pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya pembelian bahan baku, yang kemudian menjalar ke berbagai komponen biaya lainnya. Sementara, ruang bagi industri untuk terus menyerap kenaikan biaya semakin terbatas.
"Biaya produksi bahan baku, biaya logistik, biaya utilitas pasti naik kan? Apalagi dengan tambahan kebijakan BI menaikkan suku bunga acuan yang berdampak pada bunga kredit," ujar Danang.
Kenaikan harga dinilai sulit dihindari mengingat industri harus menanggung lonjakan biaya impor bahan baku di tengah biaya logistik dan pembiayaan yang juga meningkat. Kondisi itu berpotensi memangkas margin keuntungan perusahaan apabila tidak diimbangi dengan penyesuaian harga jual.
Pelemahan Daya Beli Jadi Kekhawatiran Utama Industri Tekstil
Pelemahan daya beli masyarakat saat ini justru menjadi ancaman terbesar bagi industri tekstil nasional.
“Ini mengakibatkan lesunya permintaan domestik," ujar Danang.
Situasi ini membuat perusahaan berada dalam posisi dilematis antara menjaga volume penjualan dan mempertahankan profitabilitas.
Permintaan dalam negeri yang melemah membuat pelaku usaha harus mencari berbagai strategi untuk menjaga penjualan. Secara umum, industri saat ini berupaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas melalui inovasi proses produksi, pengurangan konsumsi energi, penggunaan mesin berteknologi tinggi, hingga memperluas pasar ekspor.
"Pada umumnya, kita sedang meningkatkan implementasi inovasi pada kapasitas produksi, pengurangan konsumsi energi, aplikasi mesin-mesin berteknologi tinggi, dan ekspansi ekspor ke negara-negara yang tidak ribet urusannya," kata Danang.
API disebutnya akan terus mendorong terciptanya iklim investasi yang kondusif bagi industri padat karya sekaligus mengawal berbagai kebijakan pemerintah yang berdampak pada keberlangsungan sektor manufaktur nasional.