Dari Daging ke Tumis Sayur, Jejak Pelemahan Daya Beli di Warteg dan Rumah Makan
Daging ayam dan telur kini lebih sering bertahan hingga sore di etalase warteg. Sebaliknya, tumis sayur, ikan, dan lauk dengan harga lebih terjangkau justru lebih cepat habis diserbu pelanggan. Di tengah harga bahan pangan yang terus merangkak naik, pelaku usaha kuliner mulai merasakan perubahan pola konsumsi masyarakat yang mencerminkan tekanan terhadap daya beli.
Jam makan siang sekitar pukul 12 siang menjadi puncak kunjungan teramai usaha warung tegal alias warteg yang dikelola Ramdanti (53) di wilayah Sukahati, Cibinong, Kabupaten Bogor. Di warteg yang berdiri sejak 2007 itu, mayoritas pelanggan adalah para ibu yang mengantar anaknya ke Sekolah Dasar (SD) yang berada tak jauh dari lokasi.
Ramdanti masih konsisten menyajikan berbagai lauk di etalase warung, mulai dari olahan ikan, daging ayam, sayur hingga gorengan. Bagi dia, pola kedatangan pelanggan sebenarnya tidak banyak berubah sejak dahulu. Namun belakangan, ia melihat pilihan lauk yang dibeli kini mulai berbeda.
"Lauk-lauk sekarang lebih banyak yang dicari sayur tumis atau ikan. Daging-dagingan sekarang enggak begitu laris, malah lebih sering sisa," katanya saat ditemui di lapak usahanya, Jumat (5/6).
Bukan menerka-nerka, Ramdanti melihat perubahan itu terutama saat membereskan sisa sajian warung menjelang jam tutup lapaknya.
Warteg Kharisma Bahari miliknya menjual lauk-pauk yang berkisar Rp 3 ribu hingga Rp 10 ribuan. Kelompok sajian dengan harga terendah adalah sayur dalam bentuk masakan sop dan tumis. Menurutnya, ketika pembeli goyah secara finansial, menu ikan dan daging adalah lauk pertama yang dihempaskan karena dijual paling mahal Rp 7 ribuan – Rp 10 ribuan.
Ramdanty menghitung, dua tahun lalu ia bisa menyajikan 50 potong ayam di etalase, kini hanya ada 20 – 25 potong yang berani ia sajikan. “Itu pun sampai jam 9 malam kadang sisa 3, sisa 5 potong,” kata dia.
Meski mengurangi hidangan di etalase, omzet harian masih tetap berkurang. Menurut Ramdanti, warteg yang dikelolanya pada tahun lalu bisa meraup hingga Rp 2 juta per hari. Namun, kini pendapatan kotor warteg terus menyusut.
Laba Warung Makan di Tengah Ibu Kota Ikut Susut
Fenomena ini merata terasa dari wilayah kabupaten hingga ke Ibu Kota di Jakarta. Warung Aneka Masakan Padang yang telah berdiri sejak 1983 di tengah kota Jakarta Selatan pun labanya digerus harga pangan dan penurunan daya beli konsumen.
Pemilik warung masakan Padang Basalero, Muhammad Fajri (37) merupakan generasi ketiga pengurus rumah makan yang terletak di Jalan Raden Patah, Kebayoran Baru. Posisi warungnya strategis di antara jajaran gedung kantor pemerintah, di persimpangan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) dan Mabes Polri.
Namun, tingginya lalu lintas pekerja dan aktivitas perkantoran di sekitar warung tidak lagi menjamin ramainya penjualan seperti tahun-tahun sebelumnya. Menurut Fajri, perubahan mulai terlihat dari pilihan menu pelanggan hingga jumlah lauk yang tersisa setiap hari.
Ia bercerita, palung alias etalase saji khas masakan padang yang disusun bertumpuk itu, kini sering menyimpan sisa lauk yang tak habis terjual. Fajri melihat perubahan yang semakin nyata dalam beberapa tahun terakhir, terutama di tahun ini.
"Dulu omzet bisa Rp 4 juta sampai Rp 5 juta sehari. Sekarang sekitar Rp2 juta, bahkan kadang kurang," ujarnya.
Meski demikian, biaya modal harian tetap berada di kisaran Rp2 juta. Kondisi tersebut membuat margin usaha semakin tipis. "Enggak jarang malah nombok belakangan ini. Terendah kami cuma raup Rp1.3 juta, jadi Rp 800 ribu sisanya itu rugi," ujarnya.
Menurut dia, masalah utama bukan hanya kenaikan harga bahan baku, melainkan juga menurunnya daya beli masyarakat. "Harga bahan naik, tapi pengunjung berkurang. Itu yang paling terasa," katanya.
Perubahan itu terlihat jelas dari jumlah ayam yang dibeli setiap hari. Sebelum pandemi, rumah makannya bisa mengolah sekitar 50 ekor ayam per hari. Setelah pandemi jumlahnya turun menjadi sekitar 15 hingga 10 ekor. Kini, Fajri hanya mengelola sekitar sepuluh ekor ayam per hari.
"Dulu 50 ekor habis. Sekarang sepuluh ekor saja masih banyak sisa," katanya.
Bukan hanya karena harga ayam dan daging yang semakin mahal, tetapi juga karena pelanggan semakin jarang memilih lauk-lauk tersebut. "Mau enggak mau kita kurangi produksi. Bukan cuma dagingnya mahal, pembelinya juga makin enggak sanggup beli," ujarnya.
Harga daging sapi yang sebelumnya sekitar Rp110 ribu per kilogram kini mencapai Rp140 ribu per kilogram. Namun harga jual kepada pelanggan tidak bisa dinaikkan dengan mudah.
"Ini harga enggak naik saja pengunjung sudah pergi. Gimana kalau dinaikin?" katanya.
Untuk bertahan, Fajri melakukan berbagai efisiensi mulai dari memotong porsi produksi hingga memangkas jumlah karyawan. Jumlah karyawan yang dulu lima orang kini tersisa tiga orang.
Laba Digerus Bahan Pokok, Dibayangi Pelemahan Daya Beli
Baik Ramdanty maupun Fajri setuju, penyusutan omzet dirasakan dalam beberapa tahun terakhir, seiring kenaikan harga kebutuhan pokok yang terus terjadi. Minyak goreng menjadi salah satu komponen biaya yang paling terasa.
Ramdanty mengingat harga minyak goreng kemasan curah dua tahun yang lalu masih berada di kisaran Rp 15 ribuan per liter. Bahkan merek premium saat itu masih bisa dibeli sekitar Rp 20 ribu. Kini, minyak goreng yang menurutnya paling murah di minimarket bisa mencapai Rp 25 ribuan per liter.
Data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (SP2KP Kemendag) per hari ini (5/6) mencatat, harga Minyak Goreng Sawit Kemasan Premium kini berada di kisaran Rp22.317 per liter, sedangkan Minyak sawit curah Rp19.639 dan Minyakita Rp15.447.
Sementara itu, pada tahun yang dikenang Ramdanty pada Juni 2024, data SP2KP Kemendag mencatat harga Minyak Goreng Sawit Kemasan Premium berada di kisaran Rp19.078 per liter, sedangkan Minyak sawit curah Rp16.041. Tak hanya minyak goreng, harga bahan pangan lain memiliki pola kenaikan yang serupa.
Warung Ramdanty belum menaikkan harga sejak tahun tersebut. Kenaikan biaya produksi itu tidak serta-merta bisa dibebankan kepada pelanggan. Harga cabai yang sempat menyentuh Rp80 ribu per kilogram menjadi contoh bagaimana bia
a dapur meningkat tanpa diikuti ruang untuk menaikkan harga jual.
“Di warung makan, kenaikan seribu dua ribu aja pelanggan bisa kabur. Sekarang harga warteg ga naik, tapi pelanggan tetap makin sepi” kata dia.
Konsumen Tahan Belanja, Harga Kebutuhan Lain yang Ikut Naik
Bagi Satya (32), makan siang dulu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu lama. Sebagai pekerja kantoran di kawasan Jakarta Selatan, ia terbiasa memilih lauk sesuai selera, seperti ayam goreng, telur balado, sesekali rendang atau ikan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kebiasaan itu perlahan berubah.
Bukan karena harga makanan di warteg atau rumah makan Padang melonjak drastis. Justru menurut Satya, yang terasa lebih membebani adalah kenaikan berbagai kebutuhan lain yang harus ia keluarkan setiap bulan.
"Kalau harga lauk naiknya enggak terlalu terasa. Yang lebih kerasa itu pengeluaran sehari-hari yang lain," ujarnya saat ditemui di rumah makan padang di Jakarta Selatan, Jumat (5/6).
Salah satu yang paling membebani adalah biaya transportasi. Ojek online yang menjadi moda transportasi utamanya untuk berangkat dan pulang kerja kini memakan biaya jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu.
"Dulu dari kos ke kantor paling sekitar Rp12 ribu. Sekarang bisa Rp20 ribuan sekali jalan. Kalau pulang-pergi kan sudah Rp40 ribu lebih sehari," katanya mencontohkan.
Kenaikan biaya transportasi itu belum termasuk pengeluaran rutin lainnya yang ikut meningkat, mulai dari biaya kost, tagihan digital, hingga kebutuhan sehari-hari yang kini semakin mahal.
Menurut Satya, kenaikan harga kopi, air minum kemasan, kebutuhan mandi, deterjen, hingga biaya langganan aplikasi menjadi pengeluaran kecil yang jika dijumlahkan cukup menguras anggaran bulanan.
"Kalau satu-satu mungkin enggak terasa. Tapi ketika semuanya naik bersamaan, akhirnya harus ada yang dikurangi," ujarnya.
Pilihan yang paling mudah disesuaikan adalah anggaran makan. Jika dulu ia bisa membeli nasi dengan dua lauk atau memilih menu daging tanpa banyak pertimbangan, kini ia lebih sering memilih kombinasi yang lebih hemat.
"Kalau sekarang biasanya satu lauk saja. Kadang pilih tumisan sama ikan atau tahu tempe. Daging sudah jarang," katanya.
Menurut Satya, perubahan tersebut bukan karena ia tidak ingin menikmati makanan yang lebih mahal. Namun setelah menghitung seluruh pengeluaran bulanan, ruang untuk konsumsi menjadi semakin sempit. "Prioritasnya sekarang yang penting cukup sampai akhir bulan. Jadi makan juga lebih disesuaikan," ujarnya.