BBM Pertamax Naik, Potensi Kerek Biaya Pengiriman Barang

ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/bar
Pengendara motor antre BBM non subsidi jenis Pertamax di salah satu SPBU kawasan Kuningan, Jakarta, Minggu (1/3/2026). PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga BBM non subsidi yang berlaku mulai 1 Maret 2026 yakni harga Pertamax (RON 92) dari Rp11.800 per liter menjadi Rp12.300 per liter, Pertamax Green (RON 95) dari Rp12.450 per liter menjadi Rp12.900 per liter, Pertamax Turbo (RON 98) dari Rp12.700 menjadi Rp13.100 per liter, Dexlite dari Rp13.250 per liter menjadi Rp14.200 per liter, Pertamina
Penulis: Kamila Meilina
Editor: Yuliawati
10/6/2026, 18.04 WIB

Harga Pertamax naik 32,11% dari Rp12.900 pada awal Juni menjadi Rp16.250 per hari ini (10/6). Kenaikan berpotensi mempengaruhi biaya pengiriman barang dan dampaknya terhadap sektor manufaktur masih dalam tahap pengkajian.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, mengatakan pemerintah masih mencermati dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi terhadap aktivitas industri, terutama yang berkaitan dengan distribusi bahan baku maupun produk jadi.

"Untuk non-subsidi, kami belum hitung. Nanti coba kami hitung lebih rinci. Mungkin ada pengaruhnya ke biaya pengiriman barang," kata Febri ditemui di Kompleks Senayan DPR RI, Jakarta, Rabu (10/6).

Kenaikan biaya distribusi dapat terjadi baik pada pengiriman bahan baku ke pabrik maupun distribusi produk manufaktur dari industri ke distributor dan konsumen.

"Biaya pengiriman barang untuk bahan baku atau juga produk manufaktur ketika dikirimkan dari industri ke distributor, itu nanti kami cermati dulu untuk kenaikan harga BBM yang baru-baru ini," ujarnya.

Meski demikian, Kemenperin menilai faktor yang paling berpengaruh terhadap kinerja industri tetap harga BBM subsidi. Sebab, perubahan harga BBM subsidi memiliki dampak luas terhadap inflasi, daya beli masyarakat, hingga permintaan produk manufaktur.

Apabila harga BBM subsidi naik, maka biaya produksi industri berpotensi meningkat seiring kenaikan harga berbagai input produksi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mendorong penyesuaian harga jual produk manufaktur.

"Industri tentu akan menyesuaikan utilisasi produksi dan mungkin juga harga jual manufakturnya," kata dia.

Di sisi lain, kenaikan harga BBM subsidi juga berpotensi menekan daya beli masyarakat. Padahal, konsumsi rumah tangga merupakan salah satu sumber utama permintaan domestik bagi produk manufaktur nasional.

"Harga BBM subsidi yang tidak naik membuat inflasi masih terkendali dan daya beli masyarakat masih terjaga. Akhirnya permintaan produk manufaktur juga tetap baik dan industri meresponsnya dengan meningkatkan produksi," ujar Febri.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina