Ancaman PHK 55 Ribu Pekerja, Asosiasi Keramik Soroti Pasokan Gas Industri Susut
Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) buka suara terkait kabar adanya ancaman penutupan dua pabrik keramik dan potensi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 55 ribu pekerja akibat lonjakan harga gas industri.
Ketua ASAKI Edy Suyanto mengatakan, tekanan terhadap industri keramik saat ini memang semakin berat akibat tingginya biaya energi, terutama harga gas yang digunakan sebagai bahan bakar utama dalam proses produksi.
Permasalahan yang dihadapi industri keramik bukan hanya terkait harga gas, tetapi juga keterbatasan pasokan gas dengan harga yang kompetitif. Kondisi ini dapat menggerus daya saing industri nasional.
Pasokan gas dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) melalui skema alokasi gas industri tertentu (AGIT) terus mengalami penurunan. Pada periode Januari hingga Mei 2026, pasokan AGIT yang diterima industri keramik hanya mencapai 47,5%.
Sementara kekurangan pasokan harus dipenuhi melalui gas dengan harga regasifikasi LNG yang jauh lebih mahal, yakni sekitar US$20,5 per MMBTU.
"Dengan demikian industri keramik harus membayar gas dengan kisaran rata-rata US$15–US$16/MMBTU, alias dua kali lipat di atas harga HGBT US$7/MMBTU. Akibatnya daya saing akan terus tergerus dan utilisasi kapasitas produksi akan menurun," ujar Edy kepada Katadata.co.id, Rabu (24/6).
Ia menambahkan, berdasarkan informasi terbaru dari PGN, pasokan AGIT pada Juni 2026 berpotensi turun kembali hingga berada di bawah 30%.
Kondisi tersebut membuat industri keramik menghadapi peningkatan biaya produksi yang signifikan, di tengah persaingan global dan ancaman masuknya produk impor, terutama dari Cina dan India.
ASAKI menegaskan, perjuangan industri bukan semata-mata meminta harga gas murah, melainkan memastikan keberlangsungan industri keramik nasional, investasi, serta lapangan kerja.
"Yang ASAKI perjuangkan bukan sekadar harga gas. Yang kami perjuangkan adalah keberlangsungan hidup industri keramik nasional, investasi, dan lapangan kerja kurang lebih 150.000 orang yang tergabung di dalam ASAKI," kata Edy.
Menurutnya, industri keramik tidak meminta perlakuan khusus, melainkan kepastian pasokan energi dengan harga yang wajar agar industri tetap mampu berproduksi dan menyerap tenaga kerja.
ASAKI berharap harga gas industri dapat berada pada kisaran US$7–US$9 per MMBTU, setara dengan harga gas industri di Malaysia dan Thailand. Dengan level tersebut, industri keramik nasional dinilai masih mampu bertahan dan bersaing.
"Angka tersebut seharusnya bisa direalisasikan dengan AGIT 80% dan selebihnya menggunakan harga regasifikasi LNG," ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea menyebut dua pabrik keramik besar di Bekasi terancam berhenti beroperasi akibat tingginya harga gas industri.
Sekitar 55 ribu pekerja berpotensi terkena PHK dalam waktu 10 hari ke depan. Menurutnya, kekhawatiran tersebut muncul setelah perusahaan mulai melakukan pembahasan terkait keberlanjutan operasional.
Dua perusahaan tersebut merupakan anggota serikat pekerja yang memiliki jumlah pekerja besar, yakni pabrik granit, Milan Keramik, dan Mulia Keramik. Menurutnya, kondisi ini berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Dua pabrik anggota saya yang terbesar di Bekasi tutup karena gas industri. Ini bahaya sekali," ujar Andi Gani dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) di Jakarta, Selasa (23/6).