Selat Hormuz Ditutup, Kadin Desak Pemerintah Percepat Diversifikasi Energi
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendesak pemerintah mempercepat diversifikasi sumber energi dan bahan baku strategis menyusul kembali ditutupnya Selat Hormuz akibat meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah. Langkah itu untuk mengurangi risiko pasokan dan kenaikan biaya produksi.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia Erwin Aksa mengatakan eskalasi konflik yang terjadi di Selat Hormuz tak hanya berdampak pada ketersediaan energi, tetapi juga berpotensi kembali mendorong kenaikan harga minyak, biaya angkut, premi asuransi pelayaran hingga mengganggu pasokan bahan baku industri.
Pemerintah diminta mengambil langkah mitigasi dengan memastikan kecukupan stok energi nasional, mempercepat diversifikasi sumber impor energi dan bahan baku strategis, serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar industri tidak menghadapi tekanan berlapis.
"Indonesia sebenarnya sudah mulai melakukan diversifikasi sumber energi. Namun dalam situasi seperti sekarang, diversifikasi tersebut perlu terus dipercepat dan diperluas, termasuk memastikan pasokan minyak, LPG, maupun bahan baku strategis dapat berasal dari jalur yang tidak terlalu bergantung pada kawasan konflik," ujar Erwin kepada Katadata.co.id, Senin (20/7).
Dia menyarankan pemerintah memperkuat koordinasi dengan pelaku usaha untuk memantau ketersediaan bahan baku dan perkembangan biaya logistik di sektor strategis. Apabila tekanan berlangsung dalam jangka panjang, pemerintah dinilai perlu menyiapkan kebijakan sementara untuk menekan biaya logistik dan produksi agar kenaikan biaya tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen.
Tekanan Sempat Mereda Berpotensi Memanas Lagi
Menurut Erwin, tekanan terhadap industri memang sempat mereda setelah pelaku usaha melakukan penyesuaian rantai pasok. Namun, apabila gangguan di Selat Hormuz berlangsung selama beberapa pekan atau bahkan berbulan-bulan, biaya produksi dan logistik diperkirakan kembali meningkat.
Besarnya dampak akan berbeda di setiap sektor, bergantung pada lamanya gangguan, perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta kemampuan perusahaan mencari sumber pasokan alternatif.
Sektor yang paling rentan adalah industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap energi dan bahan baku impor, seperti petrokimia, plastik, pupuk, industri kimia, serta industri dengan konsumsi energi besar.
“Dampaknya juga berpotensi merambat ke industri makanan dan minuman, tekstil, otomotif, transportasi, hingga logistik akibat kenaikan biaya bahan bakar dan bahan baku turunannya,” kata dia.
Meski demikian, Erwin menilai dampak terhadap operasional industri belum tentu langsung terasa karena sebagian perusahaan masih memiliki stok pengaman dan kontrak pasokan yang masih berjalan. Namun jika gangguan berlangsung lebih lama, perusahaan diperkirakan harus menambah persediaan, mencari pemasok alternatif, atau mengubah jalur pengiriman yang pada akhirnya meningkatkan biaya operasional.