Proyek Pedestrian Deck Dukuh Atas MRT Jakarta Rp300 Miliar Masuk Tahap Tender

ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/YU
Sejumlah pengendara dan pejalan kaki melintas di kawasan Dukuh Atas, Jakarta, Jumat (24/10/2025). Pemerintah Provinsi Jakarta segera membangun Transit oriented development (TOD) di kawasan Dukuh Atas atau Dukuh Atas Hub yang nantinya akan menghubungkan sejumlah moda transportasi publik seperti LRT Jabodebek, KRL, MRT Jakarta, Transjakarta dan Kereta Bandara yang ditargetkan rampung pada pertengahan 2027.
31/7/2026, 06.55 WIB

PT MRT Jakarta mulai memasuki tahap tender untuk pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas dengan nilai investasi sekitar Rp300 miliar. Proyek yang dirancang menjadi penghubung utama kawasan transit di Dukuh Atas tersebut akan dibiayai tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta, Agus Trihan, mengatakan proses pengadaan proyek saat ini sedang berjalan.

"Ini lagi masuk tahap tender. Nilainya kurang lebih sekitar Rp300 miliar," ujarnya di Jakarta Selatan, Kamis (31/7).

Pedestrian Deck Dukuh Atas merupakan jembatan pejalan kaki bertingkat yang dikembangkan MRT Jakarta di kawasan Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas. Infrastruktur ini dirancang untuk menghubungkan empat kawasan yang selama ini terpisah, sekaligus mengintegrasikan akses ke berbagai moda transportasi publik, seperti MRT Jakarta, KRL Commuter Line, LRT Jabodebek, Transjakarta, hingga kereta bandara. Selain mempermudah perpindahan antarmoda.

Pendanaan proyek sepenuhnya berasal dari MRT Jakarta. Skema pembiayaannya sekitar 50% menggunakan dana investasi perusahaan, sedangkan sisanya direncanakan berasal dari pinjaman (loan). "Untuk pendanaannya akan dibiayai oleh MRT Jakarta sehingga tidak menggunakan pembiayaan dari APBD," kata Agus.

Jembatan penyeberangan berbentuk cincin donat ini akan dibangun di atas lahan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan mekanisme sewa lahan. Dengan demikian, aset hasil pembangunan tetap menjadi milik MRT Jakarta sehingga tata kelola aset dinilai lebih sederhana.

"Kalau kita bangun dengan dana MRT Jakarta, asetnya menjadi milik MRT Jakarta. Karena lahannya milik Pemprov, skemanya MRT menyewa lahan sehingga pengelolaan aset lebih mudah," ujarnya.

Agus menegaskan nilai investasi sekitar Rp300 miliar tersebut hanya mencakup biaya pembangunan fisik. Proyek ini tak memerlukan pembebasan lahan karena seluruh pembangunan dilakukan pada lahan yang sudah tersedia.

"Nilai itu hanya untuk pembangunan fisik. Tidak ada pembebasan lahan," katanya.

Dirancang Urai Kepadatan

Selain menjadi penghubung antarkawasan, pedestrian deck juga dirancang untuk mengurangi kepadatan pejalan kaki yang selama ini terkonsentrasi di Terowongan Kendal.

Menurut Agus, saat ini akses utama perpindahan antarkuadran masih terpusat di terowongan tersebut. Kehadiran pedestrian deck diharapkan menyediakan jalur alternatif sehingga distribusi arus pejalan kaki menjadi lebih merata.

Adapun jembatan penyebrangan itu akan menaungi sejumlah kuadran area termasuk stasiun KRL BNI City dan MRT Dukuh Atas BNI di sisi utara (Q1), kawasan stasiun Sudirman dan LRT Dukuh Atas (Q2), Kompleks Wisma 46 BNI (Q3), hingga ke kawasan Halte TransJakarta Galunggung dan Kompleks Landmark (Q4). Selama ini perpindahan antarkuadran dinilai kurang nyaman karena pejalan kaki harus turun ke permukaan jalan dan memutar cukup jauh.

"Harapannya pedestrian deck ini dapat mengurai kepadatan. Masyarakat nantinya memiliki alternatif jalur perpindahan sehingga kepadatan di Terowongan Kendal dapat berkurang," ujarnya.

Penyediaan area drop-off maupun kantong parkir bagi pengemudi ojek online masih dalam tahap kajian. MRT Jakarta juga akan mendorong pemilik gedung di sekitar kawasan, seperti Wisma BNI, untuk menyediakan area tunggu maupun drop-off bagi ojek online.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina