Industri Sawit Dibayangi Kenaikan Biaya Pupuk dan Logistik

ANTARA FOTO/Akbar Tado/nym.
Pelaku usaha industri sawit harus menghadapi lonjakan biaya operasional akibat kenaikan harga pupuk, bahan bakar, hingga logistik internasional.
Penulis: Kamila Meilina
3/8/2026, 13.35 WIB

Industri kelapa sawit Indonesia menghadapi tantangan baru pada 2026. Di tengah perlambatan pertumbuhan produksi dan meningkatnya kebutuhan minyak sawit mentah (CPO) untuk program biodiesel B50, pelaku usaha juga harus menghadapi lonjakan biaya operasional akibat kenaikan harga pupuk, bahan bakar, hingga logistik internasional.

Wakil Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Lolita Bangun mengatakan tekanan biaya tersebut dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok global.

"Situasi geopolitik antara Iran dan AS-Israel telah memengaruhi biaya operasional industri sawit, baik di sektor hulu maupun hilir," ujar Lolita dalam keterangannya, dikutip Senin (3/8). 

Di sektor hulu, harga pupuk dilaporkan meningkat hingga 30% sejak Maret 2026 setelah Cina membatasi ekspor pupuk. Di saat yang sama, harga bahan bakar minyak (BBM) untuk kebutuhan industri melonjak hampir dua kali lipat, dari sekitar Rp15.000 menjadi Rp29.000 per liter.

Kenaikan tersebut berdampak langsung pada biaya operasional perkebunan, mulai dari pengangkutan tandan buah segar (TBS), penggunaan alat berat, hingga meningkatnya biaya tenaga kerja seiring penyesuaian upah minimum.

Tekanan juga dirasakan di sektor hilir. Gangguan keamanan di kawasan Timur Tengah membuat sejumlah kapal pengangkut komoditas tidak lagi melintasi Terusan Suez dan memilih memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika. Perubahan rute ini memperpanjang waktu pengiriman sekaligus meningkatkan biaya logistik.

Selain itu, premi asuransi pengiriman juga naik karena tingginya risiko keamanan di jalur perdagangan internasional.

Tambahan Biaya Logistik dan Asuransi Menekan Daya Saing

Menurut GAPKI, secara keseluruhan biaya tambahan untuk logistik dan asuransi diperkirakan meningkat sekitar 50% dibandingkan kondisi normal. Kondisi tersebut berpotensi menekan daya saing ekspor sawit Indonesia di tengah meningkatnya biaya produksi.

Di sisi lain, industri sawit juga menghadapi perubahan struktur permintaan. Implementasi mandatori biodiesel B50 sejak Juli 2026 diperkirakan meningkatkan kebutuhan CPO domestik sekitar 1,9 juta ton dibandingkan alokasi B40 pada 2025. Total kebutuhan CPO untuk program B50 diperkirakan mencapai sekitar 14,6 juta ton.

Sementara itu, pertumbuhan produksi sawit pada 2026 diperkirakan melambat menjadi di bawah 2%. Produksi tertahan akibat dampak El Niño, penurunan kualitas agronomis, serta masih berlangsungnya program peremajaan kebun.

Kombinasi produksi yang tumbuh terbatas, meningkatnya konsumsi domestik, dan kenaikan biaya operasional diperkirakan akan menjadi tantangan utama industri sawit Indonesia sepanjang 2026. Selain menekan margin perusahaan, kondisi tersebut juga berpotensi mengurangi volume ekspor karena semakin banyak pasokan CPO yang diserap untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina