Bidik Gen Z Punya Rumah, Danantara Tawarkan KPR DP 1% dan Tenor 30 Tahun
Danantara Indonesia membidik generasi Z yang kesulitan memiliki rumah di tengah harga properti perkotaan yang semakin mahal. Untuk menjawab tantangan tersebut, Danantara menawarkan skema pembiayaan dengan uang muka (DP) mulai 1% dan tenor KPR hingga 30 tahun.
Kemudahan tersebut akan ditawarkan melalui Danantara Housing Expo 2026 yang digelar pada 27–30 Agustus 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK. Pameran ini menghadirkan beragam pilihan hunian sekaligus akses pembiayaan yang dinilai lebih terjangkau bagi generasi muda.
Senior Director Sector Specialist Property & Real Estate Danantara Asset Management, Dian Takdir Badrsyah, mengatakan skema pembiayaan itu memang dirancang untuk membantu generasi muda, termasuk Gen Z, yang menghadapi tantangan harga hunian di perkotaan.
"Untuk Gen Z sebenarnya skema pendanaan yang kita siapkan itu memang ditujukan terutama juga untuk Gen Z. Kenapa? Karena tenornya 30 tahun," kata Dian dalam konferensi pers Danantara Housing Expo 2026, di Jakarta Selatan, Jumat (21/8).
Menurutnya, tenor panjang memungkinkan Gen Z yang mulai mengambil kredit pada usia di bawah 30 tahun untuk menyelesaikan cicilan sebelum memasuki usia pensiun.
Selain tenor panjang, skema pembiayaan tersebut menawarkan DP mulai 1%. Dian mencontohkan, untuk hunian dengan harga sekitar Rp300 juta, calon pembeli dapat membayar DP sekitar Rp3 juta.
Adapun cicilan untuk hunian seharga Rp300 jutaan disebut dapat berada di kisaran Rp1 jutaan per bulan, dengan suku bunga mulai 2,75% pada tiga tahun pertama.
"Jadi Gen Z dengan pendapatan kelas mereka itu bisa memiliki hunian-hunian yang ada di Jakarta dan sekitarnya," ujarnya.
Dian menilai keterjangkauan pembiayaan menjadi salah satu persoalan utama yang membuat masyarakat, terutama generasi muda, kesulitan memiliki hunian di kawasan perkotaan.
Selain rumah tapak, Danantara Housing Expo juga menawarkan hunian vertikal, termasuk proyek yang terintegrasi dengan transportasi umum atau transit oriented development (TOD).
Dian mengatakan hunian vertikal di kawasan perkotaan menjadi salah satu alternatif karena harga tanah untuk rumah tapak di pusat kota semakin mahal. Jika masyarakat memilih rumah tapak dengan harga lebih rendah di kawasan pinggiran, biaya dan waktu perjalanan menuju tempat kerja juga menjadi pertimbangan.
"Kalau hunian vertikal ini tidak diminati, customer bisa membeli dengan harga yang tinggi untuk di Jakarta atau dia membeli yang murah di luar Jakarta. Itu kan memakan waktu yang cukup panjang untuk sampai di tempat dia bekerja," jelasnya.
Dia meyakini minat terhadap hunian vertikal akan meningkat seiring semakin mahalnya harga rumah tapak di kawasan perkotaan.
"Jadi saya rasa kepeminatan terhadap hunian vertikal ini lambat laun pasti akan kembali diminati oleh para pembeli-pembeli hunian. Karena semakin hari semakin mahal untuk membeli landed," katanya.
Sejumlah hunian berbasis TOD yang ditawarkan dalam pameran tersebut antara lain berada di Pondok Cina dan Tanjung Barat dari PP, Parung Panjang, Grand Kamala Lagoon, serta Ametis yang berada dekat dengan KRL. Ada pula Urbano Bekasi yang disebut berjarak sekitar 250 meter dari stasiun sehingga dapat dijangkau dengan berjalan kaki.
Secara keseluruhan, Danantara Housing Expo 2026 akan menghadirkan lebih dari 100 ribu unit hunian dari lebih dari 100 developer. Pilihannya mencakup rumah tapak hingga apartemen untuk segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) maupun non-MBR.
Danantara Housing Expo 2026 akan digelar pada 27-30 Agustus 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta. Masyarakat dapat mengakses skema pembiayaan dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan Bank Syariah Indonesia (BSI), dengan suku bunga mulai 2,75%, DP mulai 1%, serta tenor hingga 30 tahun.