Industri Mamin RI Bidik Peluang dari Tren Makanan Sehat
Industri makanan dan minuman (mamin) Indonesia melihat peluang besar dari meningkatnya tren konsumsi makanan yang lebih sehat. Perubahan preferensi konsumen dinilai akan mendorong pelaku industri untuk terus berinovasi, termasuk dalam penggunaan bahan baku dan food ingredients.
Kementerian Perindustrian mencatat industri makanan dan minuman tumbuh 6,51% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II 2026. Pertumbuhan tersebut mencerminkan besarnya potensi industri mamin di tengah perubahan gaya hidup dan preferensi konsumen.
Salah satu tren yang dinilai semakin berkembang adalah meningkatnya permintaan terhadap produk makanan dan minuman yang lebih menyehatkan.
"Yang saya lihat sekarang, tren ke depan itu kebutuhan makanan yang lebih menyehatkan semakin meningkat," ujar Adhi S. Lukman, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), dalam konferensi pers Food Ingredients Asia 2026 di Jakarta Selatan, Kamis (27/8).
Adhi menilai tren ini tergambar dalam salah satu survei global, kategori healthy dessert diperkirakan mencatat pertumbuhan rata-rata atau compound annual growth rate (CAGR) hingga 6,95% pada 2024–2034. Nilai pasar kategori ini diperkirakan mencapai US$ 31 miliar atau setara Rp 550 triliun (kurs Rp17.760).
Sementara itu, pertumbuhan pasar healthy dessert di kawasan Asia Pasifik diperkirakan mencapai sekitar 7,95%, lebih tinggi dibandingkan kawasan lainnya.
"Ini menunjukkan bahwa tren kebutuhan makanan yang lebih menyehatkan ini semakin meningkat. Ini yang kita antisipasi," katanya.
Pergeseran tren konsumsi ini menjadi peluang bagi industri mamin untuk mengembangkan produk baru. Tren konsumsi makanan sehat mulai meningkat di Indonesia, terutama di kota-kota besar. Perusahaan dinilai bisa memanfaatkan peluang ini untuk mengembangkan produk yang lebih sehat.
Menurutnya, tren itu akan semakin kuat seiring meningkatnya Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Indonesia. Konsumen nantinya diperkirakan tidak hanya mencari makanan yang murah, tetapi juga makanan dengan nutrisi yang lebih baik.
"Ke depan, kita berharap dengan PDB per kapita Indonesia yang semakin tinggi, konsumen tidak hanya mencari makanan yang murah, tetapi makanan yang lebih menyehatkan, dengan nutrisi yang lebih baik," ujarnya.
Industri Mamin Mulai Berburu Ingredients Berkualitas
Tren makanan sehat turut mendorong kebutuhan terhadap bahan baku yang berkualitas. Hal ini menjadi peluang bagi industri food ingredients untuk menghadirkan bahan dan inovasi sesuai kebutuhan konsumen.
Adhi mengatakan pelaku industri perlu mengikuti perkembangan tersebut dan menggunakan ingredients yang berkualitas.
"Untuk itu, mau tidak mau, kita harus menjaga ingredients. Ingredients-nya paling penting," katanya.
Menurutnya, pameran menjadi salah satu cara bagi pelaku industri untuk mencari pemasok sekaligus melihat inovasi terbaru.
"Sekali datang ke pameran kita bisa menemui 750 perusahaan yang menawarkan food ingredients," katanya. Berbagai tren seperti makanan berbasis tumbuhan (plant-based) dan probiotik juga dapat menjadi inspirasi bagi industri untuk mengembangkan produk baru.
Peluang itu turut mendorong penyelenggaraan Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia 2026, yang akan digelar pada 16-18 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Fi Asia Indonesia 2026 mengusung tema "Elevating Food Standards for a Healthier, Greener Future" dan menjadi platform yang mempertemukan pelaku industri, pemasok bahan baku, peneliti, serta pemangku kepentingan lainnya.
Pameran tersebut juga menghadirkan lebih dari sepuluh Country Pavilions, termasuk partisipasi dari Kanada, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Uni Eropa.