Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kesehatan terus meningkat dan turut mendorong pertumbuhan industri suplemen kesehatan. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu momentum yang mengubah perilaku masyarakat dalam memandang konsumsi suplemen, dari sekadar produk pelengkap menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Suplemen Kesehatan Indonesia (APSKI), Decky Yao, mengatakan kesadaran masyarakat terhadap konsumsi suplemen meningkat drastis sejak pandemi Covid-19. Saat pandemi, suplemen banyak digunakan masyarakat untuk membantu meningkatkan sistem imunitas tubuh.

“Momentum pendorongnya adalah Covid. Pada waktu Covid, selain obat, suplemen digunakan untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh. Sejak itulah awareness terhadap suplemen meningkat dahsyat,” ujarnya saat diwawancara di sela pameran Vitafoods Asia 2026,di Bangkok,Thailand, Rabu (9/2).

Menurut dia, pertumbuhan pasar suplemen sempat mencapai sekitar 200% pada periode pandemi. Meskipun pertumbuhan kemudian melandai setelah pandemi berakhir, permintaan suplemen tetap menunjukkan tren positif hingga saat ini.

“Sekarang rata-rata lebih dari 10%. Setelah Covid memang menurun, tetapi di kalangan masyarakat pasar suplemen semakin lama semakin meningkat,” katanya.

Perubahan gaya hidup turut menjadi salah satu faktor yang mendorong permintaan. Masyarakat kini semakin memperhatikan kesehatan dan banyak yang mulai rutin berolahraga. Konsumsi suplemen pun tidak lagi terbatas pada vitamin, tetapi meluas ke protein, mineral, dan berbagai produk nutrisi lainnya.

“Sekarang banyak orang lebih cenderung olahraga. Mereka setiap minggu mengonsumsi suplemen, protein, vitamin, dan mineral,” ujarnya.

Dia mengatakan perubahan tersebut juga membuat konsumen semakin tidak mempersoalkan apakah produk suplemen berasal dari produsen lokal maupun impor. Faktor yang lebih diperhatikan adalah kandungan atau bahan yang digunakan serta manfaat produk.

Menurut dia, kualitas produk suplemen lokal juga telah meningkat sehingga mampu bersaing dengan produk impor. Indonesia juga dinilai telah mampu memproduksi berbagai jenis suplemen yang sebelumnya banyak bergantung pada produk impor.

“Sekarang masyarakat sudah tidak terlalu memperhatikan apakah produk itu impor atau lokal. Yang sangat diperhatikan adalah ingrediennya dan manfaatnya,” katanya.

Pasar Suplemen Masih Besar

Besarnya permintaan tersebut membuat industri suplemen kesehatan di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang luas. APSKI saat ini memiliki sekitar 100 anggota yang mencakup produsen suplemen, pemasok bahan baku, perusahaan kemasan, hingga laboratorium yang berkaitan dengan industri suplemen.

Pertumbuhan juga terlihat dari semakin banyaknya merek baru yang muncul, terutama melalui kanal perdagangan elektronik. Menurut dia, pemilik merek tidak harus memiliki fasilitas produksi sendiri karena produk dapat diproduksi oleh perusahaan manufaktur yang telah memiliki fasilitas sesuai ketentuan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) atau Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).

“Untuk bisnis suplemen di Indonesia besar banget. Setiap tahun selalu meningkat, kurang lebih 10%,” ujarDecky.

Dari berbagai jenis produk, vitamin C masih menjadi salah satu produk yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Menurut dia, pangsa pasar vitamin C mencapai sekitar 63%. Sementara itu, produk berbasis protein menjadi salah satu kategori yang kini berkembang seiring meningkatnya tren olahraga dan gaya hidup sehat.

Dia menilai tren tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin mengedepankan upaya pencegahan dibandingkan pengobatan ketika mengalami masalah kesehatan.

Industri Lokal Berpeluang Tembus Pasar Global

Meski pasar domestik masih sangat besar, tantangan berikutnya bagi industri suplemen Indonesia adalah meningkatkan ekspor. Menurut dia, peluang ekspor terbesar justru berada pada produk yang memiliki keunikan dan identitas Indonesia, seperti jamu dan produk herbal.

Sementara itu, untuk produk seperti vitamin dan mineral, industri Indonesia masih banyak menggunakan bahan baku impor sehingga lebih sulit bersaing di pasar internasional dari sisi biaya.

“Kalau untuk di luar, apa yang bisa kita jual? Jamu, herbal yang identik dengan Indonesia. Kalau vitamin dan mineral, bahan-bahannya juga impor dari luar negeri,” katanya.

Karena itu, produk herbal dan jamu dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menjadi produk unggulan Indonesia di pasar global karena menawarkan bahan dan karakteristik yang tidak dimiliki negara lain.

Di sisi lain, industri juga menghadapi tantangan untuk memenuhi standar pasar internasional, termasuk sertifikasi halal. Menurut dia, sekitar 87% anggota APSKI telah siap menghadapi penerapan kewajiban sertifikasi halal.

Tantangan terbesar berada pada bahan baku impor. Produsen bahan baku dari luar negeri yang ingin memperoleh sertifikasi halal harus memastikan proses produksinya memenuhi ketentuan halal, termasuk tidak mencampurkan produksi yang telah tersertifikasi dengan produk lainnya.

Kondisi tersebut membuat pelaku industri Indonesia mulai mencari alternatif pemasok bahan baku dari negara yang telah memiliki kesiapan sertifikasi halal.

“Beberapa negara yang paling siap adalah negara yang bahan bakunya sudah banyak tersertifikasi halal. China, Thailand, Korea, itu negara-negara non-Muslim,” ujarnya.

Menurut dia, kesiapan negara-negara tersebut menunjukkan bahwa pasar halal Indonesia memiliki daya tarik yang besar. Dengan sekitar 87% penduduk Indonesia beragama Islam, sertifikasi halal dinilai bukan hanya persoalan pemenuhan ketentuan, tetapi juga menjadi bagian dari daya saing untuk memasuki pasar Indonesia.

Karena itu, pelaku industri menilai sertifikasi halal seharusnya dipandang sebagai salah satu standar untuk mengakses pasar, bukan semata-mata sebagai hambatan bagi produk impor.

“Jangan hanya dilihat secara kualitas, manfaat, dan halalnya saja, tapi daya saingnya. Kalau mau masuk market seperti itu, jalankan aturan saja dan siap-siap,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.