Erupsi Anak Krakatau Berpotensi Tunda Ekspor-Impor via Soetta hingga Rp 2,9 T
Supply Chain Indonesia (SCI) memprediksi aktivitas erupsi Gunungapi Anak Krakatau berpotensi mengganggu kelancaran arus ekspor dan impor melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Hal ini disebabkan penutupan bandara dan jalur penerbangan selama dua hari terakhir sejak Minggu (6/9).
Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi memperkirakan nilai perdagangan yang berpotensi tertunda dapat mencapai US$168 juta atau setara Rp 2,9 triliun (kurs Rp17.610 per dolar AS) apabila gangguan penerbangan berlangsung selama 48 jam.
Erupsi gunungapi perlu diantisipasi tidak hanya dari sisi keselamatan penerbangan, tetapi juga terhadap kelancaran logistik nasional. Menurutnya, sebaran abu vulkanik dapat memicu penutupan ruang udara, pembatalan atau pengalihan penerbangan, perubahan jadwal, hingga penumpukan kargo di bandara.
"Dampaknya dapat menjalar ke kegiatan produksi dan perdagangan, terutama jika mengenai jaringan yang terhubung dengan Bandara Soekarno-Hatta sebagai pintu utama pengiriman barang bernilai tinggi dan sensitif terhadap waktu," kata Setijadi dalam keterangannya, Senin (7/9).
SCI mencatat nilai ekspor nonmigas melalui Bandara Soekarno-Hatta pada 2025 mencapai US$9,90 miliar, sedangkan nilai impor mencapai US$20,77 miliar atau Rp 365 triliun.
Dengan demikian, nilai indikatif arus perdagangan bruto melalui Soekarno-Hatta mencapai sekitar US$30,67 miliar atau Rp 539 triliun per tahun, atau rata-rata US$84,03 juta sekitar Rp 1,4 triliun per hari.
Sementara itu, volume impor melalui bandara tersebut mencapai sekitar 174,9 ribu ton per tahun, atau rata-rata sekitar 479 ton per hari.
Data tersebut mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Satu Data Perdagangan Kementerian Perdagangan, dengan data ekspor 2025 berstatus revisi.
Gangguan 8 Jam Bisa Tunda Arus Ekspor-Impor US$28 Juta
Setijadi memperkirakan, jika penerbangan terganggu selama delapan jam, arus ekspor dan impor melalui Bandara Soekarno-Hatta yang tertunda bisa mencapai sekitar US$28 juta atau Rp492 miliar. Nilai tersebut terdiri dari sekitar US$9,04 juta ekspor dan US$18,97 juta impor, dengan hampir 160 ton barang impor berpotensi ikut tertunda.
Jika gangguan berlangsung lebih lama, dampaknya akan semakin besar. Dalam skenario gangguan selama 48 jam, nilai barang ekspor dan impor yang berpotensi tertunda diperkirakan mencapai US$168 juta atau sekitar Rp2,9 triliun. Nilai tersebut terdiri dari sekitar US$54,23 juta ekspor dan US$113,83 juta impor, dengan sekitar 960 ton barang impor berpotensi tertunda.
Namun, Setijadi menegaskan angka tersebut bukan berarti kerugian yang pasti terjadi. Perhitungan tersebut hanya menunjukkan nilai barang yang berpotensi tertunda akibat gangguan penerbangan melalui Bandara Soekarno-Hatta dan belum mencakup pengiriman domestik.
Besarnya kerugian yang sebenarnya akan bergantung pada sejumlah faktor, seperti berapa banyak penerbangan yang dibatalkan, apakah kargo bisa dialihkan ke bandara lain, jenis barang yang dikirim, serta seberapa cepat operasional penerbangan kembali normal.
Barang Kritis Perlu Diprioritaskan
Untuk mengurangi dampak gangguan dalam jangka pendek, SCI meminta pengelola bandara, maskapai, perusahaan logistik, Bea dan Cukai, karantina, serta pemilik barang segera berkoordinasi.
Langkah yang perlu dilakukan antara lain memantau pergerakan abu vulkanik, mengatur ulang jadwal penerbangan, menambah kapasitas pengiriman, mempercepat proses dokumen, dan mengalihkan kargo ke bandara lain jika diperlukan.
Barang yang mudah rusak, obat-obatan, komponen penting untuk produksi, barang elektronik bernilai tinggi, dan kiriman cepat perlu mendapat prioritas. Untuk pengiriman dalam negeri, perusahaan juga dapat menggunakan jalur darat, kereta api, laut, atau kombinasi beberapa moda transportasi.
Dalam jangka panjang, perusahaan perlu menyiapkan rencana jika terjadi gangguan penerbangan dalam waktu yang berbeda-beda. Perusahaan juga perlu memiliki pilihan bandara dan moda transportasi alternatif serta cadangan kapasitas dari penyedia jasa logistik.
Importir perlu menyiapkan stok tambahan untuk bahan baku penting, sedangkan eksportir perlu memiliki gudang dan fasilitas penyimpanan alternatif, termasuk untuk barang yang membutuhkan suhu tertentu.
SCI juga mendorong pemerintah membuat aturan dan prosedur penanganan logistik saat terjadi bencana. Dengan begitu, gangguan penerbangan akibat erupsi tidak sampai menghambat rantai pasok dan kegiatan produksi secara lebih luas.