Singapura Tunda Vaksinasi Flu Khawatir dengan Kasus Kematian di Korsel

ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/aww.
Seorang dokter yang mengenakan alat pelindung diri (APD) memberikan penjelasan sebelum melakukan vaksinasi kepada anak di Rumah Vaksin Sawangan, Depok, Jawa Barat, Rabu (10/6/2020).
Penulis: Yuliawati
26/10/2020, 15.36 WIB

Pemerintah Singapura menunda penggunaan dua jenis vaksin influenza yakni SKYCellflu Quadrivalent dan VaxigripTetra, yang dicanangkan untuk menghambat pandemi corona. Penundaan ini sebagai tindakan antisipasi atas kasus kematian 48 warga Korea Selatan setelah mendapat suntikan vaksin flu.

Kementerian Kesehatan dan Otoritas Ilmu Kesehatan Singapura (HSA) menyatakan mengambil langkah preventif meskipun belum ditemukan kasus serupa di negeri itu. HSA menyebut pihaknya berkomunikasi dengan otoritas Korea Selatan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut terkait penyelidikan keterkaitan kasus kematian itu dengan vaksinasi flu.

Vaksin SKYCellflu Quadrivalent diproduksi oleh perusahaan SK Bioscience asal Korea Selatan yang didistribusikan secara lokal di Singapura oleh AJ Biologics, sedangkan VaxigripTetra diproduksi oleh Sanofi, perusahaan asal Prancis, dengan distributor Sanofi Aventis.

Adapun Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea Selatan (KDCA) membantah kematian 48 orang akibat vaksin flu, sehingga pemerintah tetap melanjutkan program vaksinasi. Program vaksinasi flu ini untuk mencegah terjadinya epidemi flu berbarengan dengan pandemi Covid-19 pada musim dingin.

Merujuk pada sebuah kajian, KDCA menyebut tidak menemukan kaitan langsung antara suntikan vaksin flu dengan 26 kasus kematian yang telah diselidiki. "Setelah mengkaji kasus-kasus kematian sejauh ini, sekarang bukan saatnya untuk menangguhkan program vaksinasi flu karena vaksinasi menjadi sangat krusial di tahun ini," ujar Direktur KDCA Jeong Eun-kyung pada Sabtu pekan lalu dikutip dari Reuters.

Kepolisian dan Layanan Forensik Nasional Korea Selatan mengumumkan hasil otopsi terhadap 13 dari 48 yang meninggal karena penyakit jantung, penyakit pembuluh darah otak, dan penyakit lainnya yang bukan akibat vaksinasi.


Meningkatnya kasus kematian membuat dokter dan politisi menyerukan penghentian kampanye pemerintah yang menargetkan vaksinasi kepada 30 juta warga atau lebih dari setengah dari total populasi sebanyak 54 juta orang. Desakan ini menguat setelah temuan kasus sekitar 5 juta dosis vaksin yang seharusnya disimpan di lemari es sempat terpapar pada suhu ruangan saat diangkut ke fasilitas medis.

Jeong menyarankan masyarakat melakukan beberapa petunjuk sebelum penyuntikan vaksin seperti minum air yang cukup dan memberi tahu pekerja medis mengenai kondisi yang dialami. Dia juga meminta masyarakat agar menunggu selama 15 hingga 30 menit setelah penyuntikan sebelum mereka meninggalkan klinik tempat vaksinasi.

"Jika memungkinkan, usahakan untuk disuntik vaksin dalam keadaan hangat karena ada pendapat bahwa temperatur rendah dapat berdampak pada penyakit pembuluh jantung dan penyakit pembuluh otak," kata dia.

Menurut data KDCA, sebanyak 9,4 juta orang telah mendapat vaksin flu per Jumat (23/10), setelah program tersebut dimulai pada September, dengan 1.154 kasus mengalami reaksi ketidakcocokan.

Berdasarkan data Worldometer Senin (26/10) virus corona menginfeksi 43,3 juta warga dunia yang menyebabkan kematian 1,15 juta orang. Amerika Serikat (AS) berada di peringkat pertama dengan jumlah kasus 8,8 juta orang. Indonesia berada di posisi ke 19 dengan jumlah kasus sebanyak 389 ribu.

Pemerintah terus menggaungkan gerakan 3M guna menekan penularan Covid-19. Masyarakat diimbau untuk membiasakan diri dengan mencuci tangan memakai sabun, memakai masker, dan menjaga jarak.



Reporter: Antara

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan