Ritel Anjlok, Tiongkok Siapkan Kebijakan Genjot Konsumsi Dalam Negeri

ANTARA FOTO/REUTERS/Tingshu Wang/HP/sa.
Orang-orang berseluncur di danau beku yang telah diubah menjadi gelanggang es, ditengah wabah virus corona (COVID-19), di Beijing, Cina, Sabtu (16/1/2021).
Penulis: Yuliawati
20/1/2021, 17.31 WIB

Pemerintah Tiongkok akan mengubah kebijakan ekonomi untuk mendorong daya konsumsi masyarakat yang anjlok akibat pandemi Covid-19. Penjualan ritel Tiongkok turun 3,9% sepanjang 2020, meski ekonomi Negara Panda masih tumbuh 2,3%.

“Kami perlu membahas cara-cara untuk meningkatkan pendapatan,” kata Yao Jingyuan, seorang penasihat kabinet Tiongkok, dikutip dari Reuters, Rabu (20/1). “Siapa yang tidak menghabiskan uang jika mereka kaya?”

Tiongkok akan menggenjot pertumbuhan tenaga kerja demi meningkatkan pengeluaran domestik. Presiden Xi Jinping sejak tahun lalu menyerukan strategi sirkulasi ganda yakni mendorong pertumbuhan dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan Tiongkok pada pasar luar negeri.

Pemerintah Tiongkok akan membangkitkan ekonomi dalam negeri dengan berbagai langkah, seperti mengizinkan lebih banyak migrasi ke kota-kota, meningkatkan upah minimum, dan mengurangi pembatasan.

Penjualan ritel yang turun 3,9% selama setahun penuh, menandai penurunan konsumsi pertama sejak 1968. Yang mengkhawatirkan bagi pembuat kebijakan, penjualan ritel naik hanya 4,6% per tahun pada Desember, meleset dari ekspektasi.

Pendapatan dari katering turun 16,6% pada 2020, dan pengeluaran rata-rata orang untuk pendidikan, budaya, dan hiburan turun hampir seperlima.

Lemahnya konsumsi disebabkan bertambahnya orang yang kehilangan pekerjaan akibat Covid-19. Berdasarkan survei, Reuters menyebutkan tingkat pengangguran naik tajam di awal tahun sebelum turun menjadi 5,2% pada Desember. Meskipun sektor ekspor mengalami lonjakan tapi permintaan tenaga kerja tetap lemah di sektor-sektor tertentu, terutama jasa.

“Kami harus mulai dengan menstabilkan pekerjaan, karena kita dapat meningkatkan pendapatan orang biasa hanya jika pekerjaan sudah terjamin,” kata Xu Hongcai, wakil direktur komisi kebijakan ekonomi di Asosiasi Ilmu Kebijakan China.

Xu mengatakan bahwa menaikkan upah minimum, memungkinkan lebih banyak penduduk pedesaan untuk menetap di kota, dan memperkuat jaring pengaman sosial akan membantu meningkatkan pendapatan, dan juga pengeluaran, dalam jangka panjang.

Pemicu lemahnya konsumsi juga karena kekhawatiran orang atas pandemi yang terus berlanjut. Sehingga sebagian dari mereka lebih banyak menyimpan dana di perbankan. Menurut data bank sentral, dana simpanan rumah tangga sebesar 11,3 triliun yuan ($ 246,69 miliar) pada 2020, naik dari 9,7 triliun yuan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok tercatat minus 6,8% pada kuartal I-2020 secara tahunan imbas pandemi Covid-19. Namun, perbaikan yang signifikan terjadi hingga akhir tahun. Berikut grafiknya: