Jerman Kembali Terapkan Lockdown, Gelombang Ketiga Corona Melanda

ANTARA FOTO/REUTERS/Annegret Hilse/AWW/sa.
Kanselir Jerman Angela Merkel menjawab pertanyaan selama sidang pleno majelis rendah parlemen, Bundestag, di Berlin, Jerman, Rabu (24/3/2021).
Penulis: Yuliawati
26/3/2021, 10.28 WIB

Pemerintah Jerman memperpanjang kebijakan karantina atau lockdown seiring meningkatnya kasus Covid-19. Masa karantina diperpanjang hingga 18 April dengan penerapan yang ketat saat libur Paskah dari 1 April hingga 5 April.

Kanselir Jerman Angela Merkel mengingatkan bahwa Jerman perlu menghentikan pertumbuhan eksponensial dari gelombang ketiga virus corona yang melanda negaranya. "Kita berada dalam situasi yang sangat, sangat serius" akibat penyebaran varian baru virus corona," ujar Merkel pada konferensi pers yang dikutip dari DW, Kamis (25/3).

Kebijakan karantina yang diperketat ini mengatur pembatasan ruang gerak terutama saat Paskah seperti perayaan di gereja secara daring, pertemuan keluarga hanya dibatasi maksimal lima orang, larangan pertemuan publik, penutupan toko selama libur Paskah. Selain itu, penduduk yang berlibur ke luar negeri harus mengikuti tes Covid-19 sebelum kembali ke Jerman.

Berdasarkan data Worldometer, hingga Jumat (26/3) jumlah kasus corona di Jerman mencapai 2,7 juta yang membuat negara tersebut berada di posisi ke-10. Dari jumlah itu, sebanyak 76 ribu orang meninggal dunia.

Menurut Institut Robert Koch untuk penyakit menular (RKI) Jerman, tingkat infeksi selama tujuh hari tercatat di angka 107 kasus atau melebihi ambang batas 100. Bila tak diterapkan kebijakan pengetatan akan membuat rumah sakit kewalahan.

RKI yang merupakan otoritas pengendalian dan pencegahan penyakit menular di Jerman, jumlah reproduksi (R) patogen kembali melampaui ambang batas setelah sebelumnya menurun selama berminggu-minggu. RKI mengumumkan nilai R selama tujuh hari secara nasional berada pada 1,01.

Angka ini berarti tiap 100 orang yang terinfeksi, secara teoritis akan menginfeksi 101 orang lainnya. Kondisi ini disebabkan penyebaran varian virus baru asal Inggris yakni B.1.1.7  yang dapat menularkan 35% lebih cepat.

"Kita kemungkinan berada di titik balik lagi. Tren penurunan beberapa pekan terakhir ini sepertinya tidak berlanjut," ujar Presiden RKI Lothar Wieler.

Kebijakan karantina ini dikritik Profesor Andrew Ullmann, juru bicara komite kesehatan parlemen Jerman. Kepada DW, dia mengatakan penerapan lockdown ketat seperti yang diberlakukan pada awal 2020 selama gelombang pertama, tidak akan berfungsi. Dia menyebutkan masyarakat mengalami kejenuhan atas kebijakan lockdown.

"Yang benar-benar saya khawatirkan adalah bahwa kita menjalankan dari satu karantina ke karantina berikutnya tanpa perspektif terhadap populasi," kata Ullman yang merupakan seorang dokter.

Dalam laporan McKinsey & Company, Jerman merupakan negara yang menggelontorkan stimulus ekonomi terbesar akibat pandemi Covid-19. Negara tersebut mengalokasikan 33% dari produk domestik bruto (PDB). Angka itu hampir 10 kali lipat dibanding saat krisis finansial 2008 yang kala itu mengalokasikan 3,5% PDB. Berikut grafik dalam Databoks: