Riset The Economist: Kematian Covid-19 RI Potensi Capai 1 Juta

Muhammad Zaenuddin|Katadata
Petugas menggunakan protokol lengkap menyelesaikan proses pemakaman jenazah korban Covid-19 TPU Rorotan, Jakarta Utara, Jumat, (16/7/2021).
Penulis: Yuliawati
6/9/2021, 16.40 WIB

Angka kematian akibat Covid-19 di dunia diperkirakan melampau data resmi. The Economist membuat riset data kematian dengan perkiraan banyak orang yang meninggal terinfeksi Covid-19 yang tak pernah dites sehingga tidak masuk data resmi.  

"Berapa banyak orang yang meninggal karena pandemi Covid-19? Jawabannya tergantung pada data yang tersedia, dan bagaimana Anda mendefinisikannya," bunyi artikel berjudul The Pandemic's True Death Toll yang dikutip Senin (6/9).  

Tidak sedikit pula yang dinyatakan meninggal karena Covid-19 sementara memiliki kondisi penyakit lain. "Ada pula kondisi yang membuat orang tersebut meninggal disebabkan tak mendapatkan penanganan di rumah sakit yang penuh pasien Covid-19?" bunyi laporan tersebut.

The Economist memperkirakan angka kematian akibat Covid-19 global mencapai 15,2 juta. "Kami menemukan bahwa ada 95% kemungkinan bahwa nilai sebenarnya terletak antara 9,4 juta dan 18,2 juta kematian," bunyi laporan tersebut.

Jumlah ini melampaui data resmi. Berdasarkan data Worldometer, jumlah kematian sebanyak 4,5 juta orang. Adapun total kasus infeksi Covid-19 sejak Maret lalu hingga saat ini sebanyak 221,6 juta.

The Economist berupaya menghitung semua kematian yang terjadi dan memasukannya sebagai kasus Covid-19. Angka yang diperoleh merupakan kesenjangan antara berapa banyak orang yang meninggal di wilayah tertentu selama periode waktu tertentu, apa pun penyebabnya.

The Economist mengakui angka yang diperoleh tersebut merupakan perkiraan kasar dengan potensi ketidakpastian. Mereka menghitung prediksi angka kematian ini dengan menggunakan model machine-learning yang mengolah data kematian di tiap negara sejak awal pandemi. Permodelan tersebut menggunakan lebih dari 100 indikator.

Hasil pemodelan tersebut menunjukkan Asia merupakan kawasan dengan perkiraan kematian paling banyak. Berdasarkan data resmi, jumlah kematian mencapai 1,053 juta orang atau 22,5 orang per 100 ribu penduduk. Adapun berdasarkan perhitungan The Economist, jumlah kematian melonjak 700% lebih banyak dari data resmi menjadi sekitar 3,4 juta hingga 12 juta. Atau kematian terjadi 75-250 orang per 100 ribu penduduk.  

Selain Asia, The Economist memperkirakan angka kematian di Afrika bertambah 800% dari data resmi. Adapun untuk angka kematian di Amerika Utara dan Eropa lonjakannya tak signifikan, masing-masing selisihnya 30% dan 60% dari data resmi.

Untuk Indonesia, angka kematiannya diperkirakan 500% lebih banyak dari pengumuman resmi. The Economist memperkirakan kematian akibat Covid-19 sekitar 280 ribu hingga 1,1 juta. Adapun data resmi pemerintah melaporkan kematian Covid-19 sebanyak 135.469 kasus.



The Economist memaparkan kelemahan pengukuran mereka. Pertama, mereka menggunakan rujukan data resmi pemerintah yang dianggap akurat. Bila pemerintah mengubah cara mengumpulkan data kematian, ada potensi pengukuran The Economist menjadi kurang tepat.

Kedua, sebagian besar data The Economist berasal dari negara-negara berpendapatan tinggi dan menengah karena dianggap mereka mampu menyajikan data yang lebih akurat. Sehingga, pemodelan ini menjadi kurang akurat untuk menggambarkan dinamika pandemi di negara-negara miskin. Hal ini berlaku juga untuk negara-negara yang mengalami perang atau bencana alam.