Mengapa Negara Arab Teluk Memihak AS dan Israel di Tengah Konflik dengan Iran?
Sejumlah negara Arab cenderung mendukung Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam konflik bersenjata yang belangsung di kawasan belakangan ini. Mereka juga menyampaikan kecaman terhadap Iran karena menargetkan sejumlah fasilitas militer AS yang berada di Timur Tengah dan negara-negara Teluk.
Guru Besar Bidang Geopolitik Timur Tengah Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Siti Mutiah Setiawati menjelaskan, kecenderungan negara Arab di kawasan Teluk memang lebih berpihak kepada AS. Hal ini lantaran negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Qatar, dan Bahrain telah lama menjalin kemitraan strategis dengan Washington, terutama dalam bidang pertahanan dan keamanan kawasan.
Menurut Siti, kemitraan itu erat kaitannya dengan struktur ekonomi negara Arab yang bertumpu pada eksplorasi serta distribusi minyak dan gas. Gangguan akses penutupan Selat Hormuz oleh Iran juga dipandang berpotensi mengancam ekspor energi dan mengguncang perekonomian domestik negara-negara Teluk.
“Negara-negara Arab Teluk sudah menjadi bloknya Amerika Serikat karena ketergantungan eksplorasi dan distribusi minyak yang tinggi,” kata Siti lewat pesan singkat WhatsApp pada Rabu (4/3).
Faktor identitas turut memperkuat ketegangan tersebut. Iran sebagai negara Parsi dengan mayoritas penduduk Syiah kerap dipersepsikan berseberangan dengan negara-negara Arab Teluk yang mayoritas Sunni.
Iran juga dipandang sebagai rival geopolitik utama di kawasan. Sejak Revolusi Islam 1979, Teheran aktif memperluas pengaruhnya melalui jaringan politik dan milisi di sejumlah negara Timur Tengah. Ekspansi pengaruh tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan penguasa Arab Teluk yang melihatnya sebagai ancaman terhadap keseimbangan kekuatan regional sekaligus stabilitas internal masing-masing negara.
Laporan Sky News pada 14 Juni 2025 lalu menyebut Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memanfaatkan jaringan proksi untuk memperluas jangkauan pengaruh Iran. Itu bisa mereka lakukan tanpa harus mengerahkan perang konvensional skala penuh untuk menghadapi negara rival.
Jaringan tersebut mencakup berbagai kelompok bersenjata yang mendapat dukungan atau afiliasi dengan Teheran, seperti kelompok Hamas di Palestina, gerakan Hizbullah di Lebanon, serta pemberontak Houthi di Yaman, termasuk pula berbagai milisi pro-Teheran di Irak dan Suriah.
Adapun Hizbullah Lebanon didirikan oleh IRGC pada 1982 dengan tujuan untuk melawan pasukan Israel yang telah menginvasi Lebanon pada tahun itu.
Operasi militer gabungan antara AS dan Israel terhadap Iran memicu gelombang serangan balasan dari Teheran ke beberapa negara di Timur Tengah. Serangan balasan Iran semakin agresif setelah Pemimpin Tertinggi (Ayatullah) Ali Hosseini Khamenei gugur dalam operasi pasukan gabungan AS dan Israel pada Sabtu (28/2) lalu.
Militer Iran kini menargetkan sejumlah fasilitas militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah dan negara-negara Teluk. Selain itu, Iran juga melancarkan serangan udara ke Kantor Kedutaan Besar AS di Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh, pada Selasa (3/3) dini hari waktu setempat.
Serangan itu memicu kebakaran di area kompleks diplomatik. Langkah Iran mendorong negara-negara Teluk Arab mengecam tindakan Teheran, seperti Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Arab Saudi, Kuwait, dan Yordania.