AS Akan Pindahkan Sistem Penangkal Rudal, Korsel Cemas Ancaman Nuklir Korut

ANTARA FOTO/KCNA via REUTERS
Militer Korea Utara melakukan \"latihan serang\" untuk beberapa peluncur dan senjata taktis ke Laut Timur dalam sebuah latihan militer di Korea Utara, dalam foto yang disiarkan oleh Pusat Agensi Berita Korea Utara (KCNA), Sabtu (4/5/2019).
9/3/2026, 11.24 WIB

Pemerintah Korea Selatan (Korsel) khawatir setelah Amerika Serikat (AS) dikabarkan akan memindahkan sistem rudal Patriot dan rudal balistik Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dari Semenanjung Korea ke Timur Tengah untuk menghadapi Iran.

Langkah tersebut dikhawatirkan dapat melemahkan daya tangkal militer Korsel terhadap ancaman Korea Utara di Semenanjung Korea. Mengutip seorang pejabat pemerintah Korsel, surat kabar Dong-A Ilbo melaporkan pada Kamis (5/3), Washington dan Seoul tengah berdiskusi mengenai kebutuhan amunisi militer AS serta kemungkinan pemindahan aset United States Forces Korea (USFK) ke Timur Tengah.

Perang yang sedang berlangsung antara AS dan Israel melawan Iran meningkatkan permintaan terhadap berbagai amunisi, seperti rudal serangan dan rudal pencegat. Kondisi ini memunculkan kemungkinan bahwa sejumlah kemampuan penting USFK dapat dialihkan ke kawasan tersebut.

Melansir pemberitaan South China Morning Post pada Jumat (6/3), Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan menyampaikan sikap hati-hati terkait laporan tersebut. Kementerian mengatakan misi USFK mempertahankan postur pertahanan gabungan yang kuat bersama militer Korea Selatan serta berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea dan kawasan yang lebih luas.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Korea Selatan, Chung Bin-na, mengatakan dalam konferensi pers rutin pada Kamis (5/3), bahwa Seoul dan Washington tetap menjalin komunikasi erat terkait penggunaan operasional pasukan USFK.

USFK dan Departemen Pertahanan AS juga menyampaikan kepada media Korea Selatan bahwa demi alasan keamanan operasional, mereka tidak akan mengomentari pergerakan, relokasi, atau kemungkinan reposisi kemampuan maupun aset militer tertentu.

Sejumlah media Korea Selatan melaporkan bahwa sistem pertahanan udara Patriot PAC-3 dan THAAD kemungkinan akan dipindahkan dari negara tersebut ke Timur Tengah.

Sistem Patriot PAC-3 berfungsi mencegat ancaman pada ketinggian lebih rendah dan mampu menghancurkan berbagai jenis rudal balistik. Sementara itu, THAAD dirancang untuk melindungi wilayah atau kota dari serangan rudal jarak jauh.

Dosen Asia Institute Universitas Melbourne, Alexander Hynd, berpendapat bahwa setiap pemindahan sistem THAAD atau Patriot berpotensi membuat Korea Selatan merasa lebih rentan terhadap ancaman militer Korea Utara.

Namun, ia menilai kecil kemungkinan Korea Utara benar-benar memulai konfrontasi langsung. Hynd juga mengatakan muncul spekulasi AS dan sekutunya di Timur Tengah mulai kehabisan rudal pencegat untuk menghadapi serangan Iran. “Ada banyak ketidakpastian, terutama mengenai berapa lama perang ini akan berlangsung serta sejauh mana stok rudal dan sistem peluncur milik Iran telah melemah,” ujarnya.

Di sisi lain, Militer AS mengatakan tetap berkomitmen untuk mempertahankan Korea Selatan dari Korea Utara yang memiliki senjata nuklir. Pernyataan itu muncul setelah media lokal melaporkan bahwa Washington tengah mempertimbangkan memindahkan kembali sejumlah aset militer AS di kawasan ke Timur Tengah seiring meningkatnya konflik dengan Iran.

Melansir pemberitaan Bloomberg, seorang pejabat USFK mengatakan pasukan tersebut tetap fokus mempertahankan postur kekuatan yang kuat, siap, dan kredibel dalam pertempuran, serta berkomitmen penuh untuk mempertahankan Korea Selatan.

AS menempatkan sekitar 27 ribu pasukannya di Korea Selatan dan memiliki sejumlah sistem pertahanan udara di semenanjung tersebut, termasuk Patriot dan sistem THAAD. Korea Selatan secara teknis masih berada dalam kondisi perang dengan Korea Utara, karena Perang Korea 1950–1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

Sebelumnya pada Kamis pekan lalu, media pemerintah Korea Utara melaporkan bahwa Kim Jong Un mengawasi uji tembak rudal jelajah dari kapal perang baru. Awal pekan lalu, Kim juga memantau latihan penembak jitu. Hal ini terjadi beberapa hari setelah Korea Utara mengecam serangan militer Israel terhadap Iran yang didukung militer AS.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu