Serangan Besar-besaran Israel ke Lebanon: 634 Orang Tewas, 1.586 Luka-luka

Antara/Xinhua
Asap membumbung pasca-serangan Israel di pinggiran kota Beirut, Lebanon pada Selasa (12/3)
Penulis: Desy Setyowati
12/3/2026, 06.01 WIB

Jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon sejak 2 Maret mencapai 634 orang, dan 1.586 lainnya terluka, kata Kementerian Kesehatan pada Rabu (11/3) waktu setempat.

Kementerian Kesehatan Lebanon juga menyebutkan 816.700 orang mengungsi. Sekitar 125.800 orang telah ditempatkan di 580 tempat penampungan yang dibuka, demikian dikutip dari Anadolu, Kamis dini hari (12/3).

Eskalasi regional telah meningkat sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan terhadap Iran sejak 28 Februari yang hingga saat ini telah menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, menurut otoritas Iran.

Teheran membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi tempat aset militer AS berada.

Konflik tersebut meluas ke Lebanon, dengan tentara Israel melancarkan serangan udara harian di tengah serangan lintas-perbatasan dengan Hizbullah.

Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengatakan pada Rabu sore (11/3), seorang relawan bernama Youssef Assaf tewas di kota Tyre di selatan saat melakukan pekerjaan kemanusiaan.

“Sangat mengkhawatirkan bahwa petugas tanggap darurat di Lebanon terus mempertaruhkan nyawa mereka saat menjalankan misi kemanusiaan,” kata ICRC dalam  pernyataan yang dibagikan di X, dikutip dari Al-Jazeera, Kamis (12/3).

“Petugas kesehatan, rumah sakit, dan unit medis lainnya, serta ambulans dan alat transportasi lain yang secara eksklusif ditugaskan untuk tugas atau tujuan medis, harus dihormati dan dilindungi.”

Kekhawatiran juga semakin meningkat mengenai nasib ratusan ribu warga sipil Lebanon, khususnya anak-anak, yang telah mengungsi dalam beberapa hari terakhir.

“Kedengarannya seperti guntur,” kata seorang bocah berusia 10 tahun bernama Adam tentang serangan yang memaksa dia dan keluarganya mencari perlindungan di tempat penampungan di Beirut.

“Rasanya seperti seluruh dunia terbakar,” kata Adam dalam video yang dibagikan secara daring oleh Dana Anak-Anak PBB (UNICEF). “Jantungku berdebar kencang. Aku menangis karena takut.”

Bernard Smith dari Al Jazeera, yang melaporkan dari ibu kota Lebanon, mencatat bahwa sebagian besar orang yang mengungsi tidak berada di tempat penampungan umum, melainkan tidur di mana saja yang dapat memberikan perlindungan, termasuk bangunan dan sekolah yang terbengkalai, serta perkemahan tenda darurat di sepanjang Corniche Beirut.

“Bagi mereka yang mengungsi, tidak ada pendidikan untuk anak-anak, tidak ada kesempatan untuk pulang, dan tidak ada kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan normal,” kata Smith.

Direktur Timur Tengah dan Afrika Utara di Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) Othman Belbeisi mengatakan, sumber daya terbatas karena lembaga kemanusiaan dan otoritas Lebanon berupaya menanggapi krisis tersebut.

“Banyak keluarga pengungsi yang hanya membawa pakaian (yang mereka kenakan),” katanya. “Mereka meninggalkan segalanya di rumah; mereka lari menyelamatkan diri. Ada rasa takut dan tingkat ketidakpastian yang tinggi.”

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.