Putin Berpotensi jadi Pemenang dari Perang AS Lawan Iran, Ini Alasannya
Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel diprediksi akan mendatangkan keuntungan kepada negara lain, salah satunya Rusia. Ini karena Rusia kemungkinan akan mendapatkan manfaat ekonomi dari perang tersebut.
Ini setelah Presiden AS Donald Trump merelaksasi sanksi kepada negara yang dipimpin Vladimir Putin itu. AS mengeluarkan lisensi 30‑hari untuk negara‑negara membeli minyak Rusia yang tertahan.
Bagi Rusia, lonjakan harga minyak merupakan keuntungan ekonomi yang besar. Apalagi perang Ukraina mengancam kondisi ekonomi Negeri Beruang Merah.
“Vladimir Putin telah memenangkan lotre di sini. Dia adalah pemenang terbesar sejauh ini karena harga minyak sangat tinggi untuk membiayai perangnya,” kata pakar energi sekaligus peraih Penghargaan Pulitzer, Daniel Yergin pada Rabu (11/3) dikutip dari CNN.
Padahal, baru beberapa minggu yang lalu, suasana di kalangan elit Rusia suram. Ini setelah pendapatan mereka dari sektor energi anjlok ke level terendah sejak tahun 2020, memperparah penerimaan pajak.
"Pemerintah menghadapi pilihan sulit, harus memangkas pengeluaran dan menaikkan pajak, bahkan mempertimbangkan beberapa pengurangan pengeluaran militer," kata peneliti senior di Carnegie Russia Eurasia Center Sergey Vakulenko dikutip dari Politico, Jumat (13/3).
Namun situasi mulai berubah usai AS melonggarkan sanksi guna menekan harga minyak dunia. Alih-alih dijual dengan harga diskon karena sanksi, minyak mentah Rusia mungkin akan dijual dengan tarif premium karena diperebutkan Cina dan India.
Dengan situasi tersebut, Rusia diprediksi akan menggunakan momen ini sebaik-baiknya. Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengtakan permintaan produk energi dari Rusia saat ini terus meningkat.
"Rusia akan terus menjadi pemasok minyak dan gas yang andal,” kata juru bicara Putin, Dmitry Peskov pada hari Jumat (13/3).
Namun, pakar energi mengingatkan bahwa masih terlalu dini bagi Rusia untuk mengklaim kemenangan dari penjualan minyaknya. Ini karena Rusia memerlukan harga minyak tetap berada level ini selama setahun.
"Satu atau dua bukan tentu akan membantu, tetapi tidak akan menyelamatkan (ekonomi) mereka," kata mantan Wakil Menteri Energi Rusia yang saat ini menjadi oposisi, Vladimir Milov.
Relasi Rusia AS Membaik
Hubungan antara AS dengan Rusia membaik pada era pemerintahan Trump. Kedua pemimpin sempat bertemu di Alaska pada pertengahan Agustus 2025.
Terbaru, pejabat Rusia, Kirill Dmitriev juga bertemu tim Trump di Florida pada Rabu (11/3). "Tim membahas berbagai topik dan sepakat tetap berhubungan," kata Utusan Khusus Trump, Steve Witkoff.
Meski hubungan dengan AS membaik, Rusia dikabarkan tetap membantu Iran dalam melawan Negeri Abang Sam itu. Moskow sebelumnya dikabarkan memberikan data intelijen kepada Iran.
Rusia juga membantu Iran dengan taktik drone yang dipelajari di Ukraina.
Seorang pejabat intelijen negara Barat mengatakan, kerja sama Rusia dengan Iran mengatakan kerja sama ini merupakan hal yang telah mengkhawatirkan karena terang-terangan dilakukan.
Meski demikian, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth belum mengambil pusing langkah Rusia itu. "Tidak ada yang membahayakan kita," kata Hegseth.