Korea Utara Tembakkan 10 Rudal ke Laut Jepang, Bagaimana Penerbangan?
Korea Utara meluncurkan 10 rudal balistik ke arah Laut Jepang pada Sabtu (14/3), dengan sebagian proyektil jatuh di perairan dekat zona ekonomi eksklusif (ZEE) Jepang.
Menurut laporan Nikkei Asia, Kepala Staf Gabungan militer Korea Selatan menyatakan rudal-rudal tersebut diluncurkan dari area sekitar Bandara Internasional Pyongyang. Otoritas Jepang menyatakan tidak ada laporan kerusakan pada pesawat maupun kapal akibat peluncuran tersebut. Namun, Pemerintah Jepang mengaktifkan peringatan darurat.
Di sisi lain, militer Korea Selatan mengatakan pihaknya telah meningkatkan pengawasan dan kesiagaan terhadap kemungkinan peluncuran lanjutan dari Pyongyang.
Lantas bagaimana situasi lalu lintas udara pasca-peristiwa tersebut?
Mengacu pada situs FlightRadar24, sejauh ini tidak ada laporan penundaan atau pembatalan penerbangan terkait peristiwa tersebut. Lalu lintas udara di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur dilabel hijau yang menunjukkan lalu lintas penerbangan baik.
Pembatalan penerbangan masif terpantau di Bahrain karena Bahrain International Airport masih tutup merespons ketegangan geopolitik. Tingkat pembatalan tinggi juga terpantau di beberapa bandara AS karena badai salju.
Sistem Pertahanan Militer Korsel "Tak Prima"
Peluncuran rudal oleh Korea Utara tersebut terjadi setelah Negeri Paman Sam menarik sebagian sistem pertahanan rudal dari Korea Selatan untuk kebutuhan operasi militer di Timur Tengah.
Berdasarkan laporan sejumlah media, negara-negara Teluk saat ini menghadapi kekurangan interceptor alias pesawat pencegat untuk menghadapi serangan drone dan rudal. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Washington mempertimbangkan pemindahan sebagian sistem Patriot dari Korea Selatan ke negara-negara Teluk.
Sistem tersebut selama ini menjadi komponen penting dalam pertahanan udara Seoul terhadap ancaman rudal Korea Utara.
Berdasarkan laporan BBC, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung telah menyatakan keberatan resmi atas pemindahan sistem anti-misil milik Negeri Paman Sam keluar dari negaranya. Namun Presiden Lee mengakui pihaknya tidak bisa memaksakan keinginan agar sistem anti-misil tetap berada di dalam Negeri Ginseng.
Profesor studi internasional di Ewha Womans University Leif-Eric Easley mengatakan pengalihan sebagian sistem pertahanan dan amunisi tidak serta-merta melemahkan pertahanan sekutu AS di Asia. “Korea Utara sudah cukup takut oleh pasukan konvensional Korea Selatan dan senjata nuklir AS,” kata Easley.
Namun para analis menilai sistem Patriot tetap menjadi elemen penting dalam sistem pertahanan udara Korea Selatan. “Meskipun Korsel telah mengembangkan dan mengerahkan sistem pertahanan rudal canggihnya sendiri, seperti Cheongung, sistem Patriot tetap menjadi komponen utama dalam arsitektur pertahanan udaranya,” kata Peneliti keamanan di International Institute for Strategic Studies Lami Kim.
Korea Utara sendiri secara rutin mengecam latihan militer gabungan antara Amerika Serikat dan Korea Selatan, yang menurut Pyongyang merupakan latihan invasi. Latihan tahunan tersebut kerap menjadi alasan bagi Korea Utara untuk melakukan uji coba rudal.